Pada sore yang lembap di Hong Kong, 20 Juli 1973, Bruce Lee berbaring untuk beristirahat. Ia mengeluhkan sakit kepala—keluhan yang, bagi orang sibuk sepertinya, terdengar sepele. Beberapa jam kemudian, pria yang dijuluki Little Dragon itu dinyatakan meninggal. Usianya 32 tahun. Dunia, yang baru mulai mengenalnya sebagai bintang global, mendadak kehilangan ikon paling berpengaruh dalam sejarah seni bela diri modern.
Bruce Lee wafat di puncak kejayaan. Film Enter the Dragon belum lagi tayang ketika kabar kematiannya menyebar. Ironisnya, karya itu kemudian meledak dan menjadikannya legenda lintas budaya—sebuah ketenaran yang datang terlambat bagi sang pemilik tubuh atletis dan pikiran filsuf tersebut.
Hari Terakhir
Catatan resmi menyebut Bruce Lee mengalami pembengkakan otak (cerebral edema). Ia sempat meminum obat pereda nyeri setelah mengeluhkan sakit kepala hebat. Tubuhnya tak pernah bangun kembali. Upaya medis tidak berhasil. Pemeriksaan forensik menyimpulkan kematian akibat reaksi terhadap obat yang dikonsumsi.
Namun kesimpulan itu tidak meredam pertanyaan. Bruce Lee dikenal memiliki disiplin latihan ekstrem. Ia berlatih berjam-jam, menjalani diet ketat, dan terus mendorong kapasitas tubuhnya. Dalam beberapa bulan terakhir sebelum kematian, jadwalnya padat: syuting, rapat produksi, promosi, dan latihan. Ia membangun karier yang melesat cepat—dan menuntut segalanya.
Antara Medis dan Mitos
Kematian mendadak Bruce Lee memantik spekulasi. Ada yang menunjuk kelelahan akut dan dehidrasi. Ada pula yang mengaitkan dengan kebiasaan latihan yang intens dan penggunaan obat tertentu. Di luar itu, mitos ikut berkelindan: kutukan dunia kungfu, konspirasi industri film, hingga cerita-cerita sensasional yang tumbuh subur di ruang hampa informasi.
Seiring waktu, pendekatan medis modern cenderung membaca kematian Bruce Lee sebagai peristiwa multifaktor. Tubuh yang terus dipacu di bawah tekanan tinggi, kondisi fisiologis tertentu, dan reaksi terhadap obat menjadi rangkaian yang masuk akal. Misteri memang tak sepenuhnya sirna, tetapi jarak antara fakta dan mitos kian terlihat.
Jalan Panjang Sang Pendobrak
Untuk memahami dampak kematian Bruce Lee, perlu melihat siapa ia sebelum menjadi legenda. Lahir di San Francisco pada 1940 dan besar di Hong Kong, Bruce Lee hidup di dua dunia. Ia mempelajari kungfu sejak muda, lalu bermigrasi kembali ke Amerika Serikat. Di sana, ia bergulat dengan diskriminasi dan stereotip terhadap orang Asia di layar lebar.
Hollywood kala itu nyaris tak memberi ruang bagi aktor Asia sebagai pemeran utama. Bruce Lee menolak peran-peran kecil yang merendahkan. Ia melatih diri, mengajar, dan merumuskan sebuah filosofi bela diri yang kelak dikenal sebagai Jeet Kune Do—sebuah pendekatan yang menolak dogma dan mengutamakan efektivitas, kebebasan, dan adaptasi.
“Serap yang berguna, buang yang tidak, dan tambahkan apa yang khas milikmu,” tulis Bruce Lee. Prinsip itu bukan hanya metode bertarung, melainkan pandangan hidup.
Film, Tubuh, dan Politik Representasi
Kesuksesan film-filmnya di Hong Kong—The Big Boss dan Fist of Fury—membalik peta industri. Bruce Lee bukan sekadar bintang laga. Ia simbol perlawanan kultural. Tubuhnya di layar menantang gambaran lama tentang orang Asia sebagai figur pasif atau karikatural.
Pukulan dan tendangannya adalah bahasa visual tentang harga diri.
Enter the Dragon menjadi puncak. Diproduksi lintas negara, film ini menghubungkan Timur dan Barat. Ketika dirilis setelah kematiannya, dunia menyaksikan apa yang telah hilang—dan sekaligus apa yang diwariskan.
Warisan yang Bertahan
Lima dekade kemudian, Bruce Lee tetap hadir. Kutipannya tentang air—fleksibel, kuat, tak terikat bentuk—sering dikutip di luar gelanggang bela diri: di ruang kelas, studio kreatif, hingga buku motivasi. Jeet Kune Do terus dipelajari sebagai metode dan filsafat. Film-film laga modern mengadopsi estetika kecepatan dan realisme yang ia pelopori.
Kematian Bruce Lee memang menghentikan napasnya, tetapi tidak menghentikan pengaruhnya. Justru dari kepergian mendadak itu, mitos dan makna saling berkelindan. Ia menjadi lebih dari manusia: simbol tentang tubuh, disiplin, identitas, dan kebebasan.
Di antara fakta medis dan cerita yang berkembang, satu hal tetap terang. Bruce Lee mengubah dunia seni bela diri dan perfilman dalam waktu yang sangat singkat. Ia pergi ketika dunia belum selesai berbicara dengannya. Dan barangkali, justru karena itulah, suaranya terus bergema.
(**)





















