Hujan punya cara unik memperlambat waktu. Di akhir pekan musim penghujan, langit mendung bukan alasan untuk murung justru jadi undangan resmi untuk menikmati hidup dengan cara paling sederhana. Makan enak.
Bayangkan suara rintik hujan yang setia mengetuk genteng, angin dingin menyelinap lewat celah jendela, dan di hadapanmu mengepul sepiring makanan hangat. Di momen seperti ini, makanan bukan sekadar pengganjal perut. Ia berubah jadi teman setia, penghangat suasana, sekaligus penghibur hati.

Gorengan: Pahlawan Musim Hujan
Mari jujur, musim hujan tanpa gorengan itu seperti hujan tanpa bau tanah. Bakwan renyah, tempe mendoan setengah matang, tahu isi yang masih mengepulkan uap… dicelup sambal rawit atau cabai hijau, langsung sukses bikin lupa cuaca dingin.
Dimakan saat masih panas? Nikmatnya sering kali berlebihan, tapi tak pernah disesali.
Mie Rebus dan Kuah-kuah Bahagia
Di saat hujan turun lebih deras, mie rebus hadir seperti sahabat lama. Kuah panas, telur setengah matang, sawi, dan taburan bawang goreng—sederhana, tapi mematikan selera diet.
Belum lagi soto, bakso, atau seblak pedas yang kuahnya membuat kening berkeringat. Aneh tapi nyata. Semakin hujan, semakin pedas yang dicari.
Nasi Hangat dan Lauk Rumahan
Ada juga kenikmatan yang lebih sunyi namun dalam: nasi panas, ikan goreng, sambal terasi, dan sayur bening. Dimakan pelan-pelan sambil menatap hujan dari balik jendela. Bukan mewah, tapi terasa rumah.
Makanan seperti ini tak perlu banyak kata ia bekerja langsung ke perasaan.
Untuk yang suka manis, pisang goreng keju, ubi rebus, atau kolak hangat adalah jawaban. Ditemani teh panas atau kopi hitam, hujan seolah lebih sopan, tak lagi terasa dingin.
Musim penghujan mengajarkan satu hal sederhana, kebahagiaan tak selalu harus keluar rumah atau pergi jauh. Kadang, ia cukup hadir dalam bentuk makanan hangat, akhir pekan yang lengang, dan hujan yang turun tanpa diminta.
(**)






















