F-16 TNI AU Cetak Sejarah, Sukses Mendarat di Tol Trans-Sumatera

Lampung : Tonggak baru strategi pertahanan udara Indonesia tercipta. Jet tempur F-16C Fighting Falcon dengan nomor registrasi TS-1634 dari Skadron Udara 16 resmi menjadi pesawat tempur pertama di Indonesia yang berhasil melakukan pendaratan dan lepas landas di ruas jalan tol.

Aksi bersejarah itu berlangsung di Tol Terbanggi Besar–Kayu Agung (Terpeka), Lampung, Rabu (11/02/2026).

Sebelumnya, pesawat serang ringan EMB-314 Super Tucano dari Skadron Udara 21 lebih dulu menguji lintasan yang sama melalui manuver go-around dan touch and go.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyebut keberhasilan tersebut sebagai lompatan besar bagi TNI AU. Ia menegaskan, capaian ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan pengelola jalan tol dan pemerintah daerah.

“Ke depan, setiap provinsi minimal memiliki akses landas pacu non-konvensional seperti jalan tol untuk mendukung operasi militer dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Ruas Terpeka dipilih karena memenuhi standar teknis ketat: bentang lurus sepanjang 3.000 meter dengan lebar 24 meter serta kualitas aspal yang mampu menahan tekanan tinggi roda pesawat tempur.

Keberhasilan ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan udara, melainkan implementasi nyata konsep Dispersed Operations—strategi penyebaran kekuatan udara agar tetap operasional meski pangkalan utama mengalami gangguan atau serangan.

Namun, memindahkan operasi jet tempur dari landasan steril ke aspal jalan tol bukan perkara sederhana.
F-16 Fighting Falcon memiliki posisi lubang asupan udara (intake) yang rendah, sehingga sangat rentan terhadap Foreign Object Damage (FOD). Kerikil kecil atau serpihan aspal yang terhisap ke mesin dapat berakibat fatal.

Karena itu, sterilisasi lintasan dilakukan secara ekstrem, memastikan tidak ada benda asing di permukaan tol. Di sisi lain, pilot dituntut menunjukkan presisi tinggi saat mengendalikan jet supersonik di jalur yang lebih sempit dibanding landasan pangkalan udara konvensional, termasuk menghadapi potensi angin samping (crosswind) di area terbuka.

Sementara itu, EMB-314 Super Tucano menampilkan karakter berbeda. Sebagai pesawat turboprop yang dirancang untuk operasi di medan kasar, Super Tucano memiliki kemampuan pengereman jarak pendek yang efisien. Karakteristik ini menjadikannya ideal untuk operasi di landasan darurat, termasuk jalan tol strategis.

Uji coba ini juga menjadi pembuktian bahwa kualitas infrastruktur jalan tol nasional mampu mengakomodasi kebutuhan strategis pertahanan. Aspal diuji menahan tekanan berat roda pesawat tempur, sekaligus menguji kesiapan koordinasi antara militer dan pengelola infrastruktur sipil.

Dengan keberhasilan ini, ruas tol Trans-Sumatera resmi masuk dalam peta strategi pertahanan nasional sebagai landasan cadangan yang dapat diaktifkan dalam situasi genting.

Indonesia bukan hanya membangun jalan, tetapi juga menegaskan jalan tol sebagai bagian dari sistem pertahanan udara negara.

(**)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *