Isra Miraj, Peristiwa Spiritual Peneguh Iman Umat Islam

Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali merefleksikan makna keimanan dan ketakwaan. Peristiwa agung yang terjadi dalam satu malam ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang keteguhan hati, kepemimpinan spiritual, serta kewajiban ibadah yang menjadi fondasi kehidupan umat Islam hingga kini.

Isra Miraj merupakan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW atas kehendak Allah SWT. Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, sementara Miraj adalah perjalanan Nabi menembus tujuh lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.

Peristiwa ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1 sebagai tanda kebesaran Allah SWT.
Terjadi di Masa Penuh Ujian
Secara historis, Isra Miraj terjadi pada periode yang sangat berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau Tahun Kesedihan, ditandai dengan wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, dua sosok yang selama ini menjadi penopang moral dan perlindungan bagi Nabi.

Pada saat yang sama, tekanan dan penolakan dari kaum Quraisy terhadap dakwah Islam semakin intens. Rasulullah SAW menghadapi penolakan sosial, boikot ekonomi, hingga ancaman fisik. Dalam situasi itulah, Isra Miraj hadir sebagai bentuk penghiburan, penguatan, dan peneguhan misi kenabian.

Salah satu makna paling substansial dari Isra Miraj adalah diperintahkannya salat lima waktu. Ibadah ini memiliki kedudukan istimewa karena diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril sebagaimana wahyu-wahyu lainnya.

Awalnya, kewajiban salat ditetapkan sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Namun, melalui dialog Nabi Muhammad SAW dan atas rahmat Allah SWT, kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara 50 kali. Hal ini menegaskan bahwa salat adalah tiang agama sekaligus sarana utama membangun hubungan spiritual antara manusia dan Tuhannya.

Peringatan Isra Miraj tidak secara khusus dilakukan pada masa Nabi dan para sahabat. Tradisi memperingatinya berkembang pada masa-masa berikutnya sebagai bagian dari upaya dakwah dan pendidikan umat. Seiring meluasnya wilayah Islam, peringatan ini menjadi sarana penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Di Indonesia, Isra Miraj diperingati dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, pembacaan selawat, serta aksi sosial. Momentum ini kerap dimanfaatkan untuk mengingatkan kembali pentingnya salat dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan tekanan sosial, ekonomi, dan teknologi, nilai-nilai Isra Miraj tetap relevan.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa di balik ujian hidup, selalu ada pertolongan dan jalan keluar dari Allah SWT.

Isra Miraj juga menjadi pengingat bahwa kemajuan manusia tidak hanya diukur dari pencapaian material, tetapi juga dari kualitas spiritual dan moral. Salat, sebagai amanat utama Isra Miraj, menjadi penyangga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Isra Miraj adalah peristiwa monumental yang melampaui dimensi ruang dan waktu. Peringatannya menjadi ajakan reflektif bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta meneguhkan akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Isra Miraj merupakan pengingat bahwa perjalanan spiritual manusia sejatinya adalah upaya terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah dinamika kehidupan.

(**)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *