KisahTragis Ratu Gang Dolly: Mami Rose. Cinta, Kekuasaan, dan Dendam yang Menghanguskan Sembilan Nyawa

Malang : Kabut pagi masih menggantung di kawasan wisata Songgoriti, Kota Batu, Minggu pagi 14 Agustus 1988. Keheningan pecah ketika Pairu, warga sekitar, mencium bau menyengat seperti logam terbakar bercampur bensin. Jejak bau itu menuntunnya ke bibir jurang sedalam belasan meter.

Di dasar jurang, sebuah Daihatsu Taft GT terbalik dalam kondisi hangus. Api memang telah padam, namun sisa asap masih membumbung. Polisi yang tiba di lokasi semula menduga kecelakaan lalu lintas. Namun satu kejanggalan segera mencuat. Bau bensin sangat kuat, padahal kendaraan tersebut bermesin diesel.

Di sekitar bangkai mobil, ditemukan lima jasad, termasuk seorang pria berseragam TNI Angkatan Laut yang belakangan diketahui bernama Letnan Kolonel Purwanto. Bersamanya, seorang perempuan yang tengah hamil, dua anak laki-laki, dan seorang keponakan.

Kondisi korban menguatkan dugaan awal aparat. Ini bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan berencana.
Songgoriti pun menjadi saksi bisu akhir dari lingkaran dendam panjang yang berakar jauh dari tempat itu.

Nama Sumi Asih mungkin tak dikenal publik kala itu. Lahir di Jombang, 28 September 1948, ia adalah anak sulung dari enam bersaudara dalam keluarga sederhana. Pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Dasar. Namun kecantikannya membuatnya dijuluki kembang desa.

Pada usia 15 tahun, ia menikah dengan Suwadi. Kemiskinan menghimpit rumah tangga muda itu. Ketika anak pertama mereka, Sugeng, lahir pada 1964, beban hidup kian berat. Dalam kondisi terdesak, Sumi menitipkan bayinya yang baru berusia 40 hari kepada sang ibu, lalu merantau ke Jakarta membawa satu tekad. Mengubah nasib, apa pun risikonya.

Jakarta era 1960-an bukan kota ramah bagi pendatang miskin. Sumi sempat bekerja sebagai pencuci piring di kawasan Pulogadung, sebelum bertemu Hendrik, seorang germo yang membawanya ke sebuah “restoran” di Ancol yang ternyata adalah klub malam.

Di sanalah Sumi mendapat nama baru. Rose. Gemerlap lampu, musik, dan uang perlahan mengikis rasa bersalahnya. Dalam empat tahun, kehidupannya berubah drastis: rumah, mobil, dan jaringan bisnis mulai ia miliki.

Namun hubungan gelapnya dengan seorang pengusaha beristri, Hasan Winaria, berakhir pahit. Ia hamil dan melahirkan Rosmawati (Wati), sementara Hasan menghilang tanpa tanggung jawab. Anak itu kembali dititipkan ke Jombang. Tahun 1975, Rose pulang kampung sebagai perempuan dengan masa lalu kelam dan pengalaman dunia gelap.

Surabaya menjadi babak baru. Sumi menikah dengan Jais Adi Prayitno, duda yang menerima masa lalunya. Mereka membuka usaha di Gang Dolly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara saat itu.

Sumi mendirikan wisma Happy Home, berbeda dari tempat lain. Wanita pilihan, karaoke, dan bar dalam satu paket. Tarifnya mencapai Rp25.000. Angka fantastis kala itu. Bisnis meledak. Nama Mami Rose pun menjelma legenda.

Di sini pula ia berkenalan dengan Letkol Purwanto, perwira TNI AL yang kemudian menjadi pelanggan tetap sekaligus mitra bisnis. Tahun 1980, berdirilah Wisma Sumber Rezeki dengan perjanjian ketat. Setoran Rp22 juta per tahun, dengan denda 20 persen jika terlambat.

Memasuki pertengahan 1980-an, razia besar-besaran membuat bisnis prostitusi merosot tajam. Setoran Mami Rose tersendat. Permohonan keringanan ditolak mentah-mentah oleh Purwanto.

Hubungan bisnis berubah menjadi teror. Purwanto kerap datang dengan gaya intimidatif. Memamerkan senjata, merusak properti, serta mengancam proses hukum. Utang Sumi membengkak hingga Rp40 juta, jumlah nyaris mustahil dilunasi kala itu. Keluarga menjadi sasaran.

Dalam keputusasaan, Sumi membawa Sugeng dan Wati menemui Purwanto. Ia berharap belas kasihan. Namun tatapan Purwanto justru tertuju pada Wati, yang masih sangat muda.
Keesokan harinya, “kelonggaran” itu berubah menjadi tawaran mengerikan.

Utang dihapus jika Wati diserahkan.
Sumi menolak. Wati segera dinikahkan dengan Adi Saputro, seorang brigadir polisi, demi perlindungan. Namun upaya itu tak menghentikan Purwanto. Wati tetap dipaksa datang ke hotel dan pulang dalam kondisi trauma berat.

Malam itu, Sumi menatap anaknya yang hancur. Sesuatu di dalam dirinya runtuh. Dengan suara pelan namun dingin, ia berkata kepada suaminya,
“Dia harus mati.”

Sebuah kelompok dibentuk. Sumiarsih (Mami Rose), Prayit, Sugeng, Adi Saputro, Nano, dan Daim.
Tanggal ditetapkan, 13 Agustus 1988.
Dengan dalih menyetor uang, mereka mendatangi rumah Purwanto di kompleks TNI AL Surabaya. Tanpa kecurigaan, pintu terbuka. Dalam hitungan menit, rumah itu berubah menjadi tempat pembantaian.
Lima orang tewas hari itu.

Jasad para korban dimasukkan ke dalam mobil, dibawa ke Songgoriti, dibakar, lalu didorong ke jurang. Namun api gagal menghapus kebenaran.

Hasil autopsi mengungkap korban telah meninggal sebelum kebakaran. Penyelidikan mengarah ke rumah Purwanto, di mana jejak darah masih tersisa. Satu per satu pelaku akhirnya ditangkap.

Pengadilan menjatuhkan vonis mati kepada para pelaku utama. Eksekusi dilakukan bertahap. Dua dekade kemudian, giliran Sumiarsih dan Sugeng menghadapi regu tembak.
Dalam pertemuan terakhir, ibu dan anak itu saling memaafkan. Beberapa menit setelahnya, kisah Mami Rose (Ratu Gelap Gang Dolly) resmi berakhir.

Dendam memang terbalas.
Namun harganya, sembilan nyawa dan satu sejarah kelam yang tak akan pernah pudar.

(**/Dikutip dari berbagai sumber)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *