Hujan kerap datang membawa suasana sendu yang menenangkan. Namun bagi peternak ayam, musim hujan adalah babak penuh kewaspadaan. Suara rintik air di atap kandang bisa berubah menjadi alarm halus akan datangnya penyakit yang menggerogoti ternak secara perlahan.
Kelembapan udara yang tinggi, suhu yang fluktuatif, serta kondisi kandang yang mudah becek menjadi kombinasi sempurna bagi berkembangnya bakteri, virus, hingga jamur. Dalam kondisi inilah daya tahan tubuh ayam cenderung menurun.
“Musim hujan adalah waktu paling rawan. Penyakit bisa menyebar dua hingga tiga kali lebih cepat dibanding musim kemarau,” kata Pak Kusen seorang praktisi peternakan unggas yang biasa menangani kasus penyakit musiman pada ayam pedaging dan petelur.
Beberapa penyakit unggas dikenal rutin muncul ketika hujan turun hampir setiap hari.
Pertama, Snot (Coryza).
Penyakit ini mudah dikenali dari gejala ayam yang pilek, mengeluarkan lendir dari hidung, mata bengkak, hingga nafsu makan menurun. Bau menyengat dari kotoran kerap menjadi tanda awal.
Kedua, CRD (Chronic Respiratory Disease).
Sering disebut “penyakit napas kronis”, CRD membuat ayam megap-megap, batuk, dan pertumbuhannya terhambat. Lingkungan lembap mempercepat penularannya.
Ketiga, Berak Kapur (Pullorum).
Umum menyerang anak ayam. Kotoran berwarna putih seperti kapur menjadi ciri khas. Penyakit ini mematikan bila terlambat ditangani.
Keempat, ND (Newcastle Disease) atau Tetelo.
Penyakit viral yang sangat berbahaya. Gejalanya mulai dari gangguan pernapasan, lemas, hingga kelumpuhan saraf.
Kelima, Jamur dan cacingan.
Air yang tercemar dan kandang lembap memudahkan spora jamur berkembang, sekaligus meningkatkan risiko infeksi parasit.
Menghadapi musim hujan, banyak peternak tergoda mengandalkan antibiotik. Padahal, langkah pencegahan justru jauh lebih menentukan.
Perbaikan manajemen kandang menjadi kunci utama. Lantai kandang harus kering, alas sekam rutin diganti, dan sirkulasi udara diperbaiki meskipun cuaca dingin. Kandang yang pengap mempercepat penularan penyakit pernapasan.
Air minum perlu perhatian ekstra. Air hujan yang tercemar harus dihindari. Penambahan vitamin, probiotik, dan imunostimulan dianjurkan untuk menjaga daya tahan tubuh ayam.
Vaksinasi juga tak boleh kendor. Jadwal vaksin harus disesuaikan dengan kondisi cuaca dan usia ayam. Di musim hujan, vaksin seringkali menjadi benteng terakhir ketika biosekuriti lengah.
“Kebersihan kandang dan konsistensi perawatan jauh lebih penting daripada seberapa mahal obat yang diberikan,” ujar Nexen seorang peternak ayam Bangkok di Lampung Utara.
Bagi peternak skala kecil, satu kandang sakit bisa berarti hilangnya pendapatan berbulan-bulan. Di sinilah pentingnya literasi kesehatan ternak bukan hanya untuk keuntungan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan hewan.
Musim hujan memang tak bisa dihindari. Namun dengan kewaspadaan, pengetahuan, dan perawatan yang tepat, ancaman penyakit bisa ditekan.
Di balik suara hujan yang turun tanpa jeda, peternak ayam belajar satu hal sederhana, merawat ternak bukan sekadar memberi pakan, tetapi membaca tanda-tanda alam dan bersiap sebelum penyakit datang mengetuk kandang.
(**)





















