Lampung Utara : Sebuah video viral di media sosial menyoroti serius pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lampung Utara. Dalam video tersebut, seorang guru meluapkan protes keras terhadap kualitas makanan MBG yang dinilainya tidak layak konsumsi dan berpotensi membahayakan kesehatan siswa.
Video itu diduga direkam di SD Negeri 3 Sindangsari, Kotabumi, Lampung Utara. Guru dalam video tersebut memperlihatkan langsung menu MBG yang diterima murid-muridnya. Lauk berupa tempe disebut sudah tidak segar, sementara buah anggur yang disajikan diduga dalam kondisi basi dan busuk.
Dengan nada emosi, guru tersebut menegaskan bahwa makanan seperti itu tidak pantas diberikan kepada anak-anak sekolah dasar.
“Apa tanggapan kamu ngasih tempe-tempe busuk, ngasih anggur busuk? Ini bukan binatang, ini anak sekolah. Kalau murid kami keracunan, apa kamu mau tanggung jawab?” ucapnya tegas.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap dunia pendidikan. Guru itu juga mendesak agar pengelola Dapur MBG segera menemuinya untuk memberikan penjelasan secara langsung dan terbuka.
Selain kualitas makanan, guru tersebut juga mengungkap persoalan lain. Menurutnya, Dapur MBG sempat berhenti beroperasi selama sekitar tiga minggu tanpa pemberitahuan resmi maupun kompensasi kepada pihak sekolah.
“Dari tiga minggu kamu orang tidak beroperasional, kompensasi buat SD kami tidak ada. Tanggapan pun tidak ada. Kamu orang pemberhentian sepihak,” katanya.
Ia menilai sikap pengelola MBG sangat disayangkan, mengingat program tersebut bersumber dari anggaran pemerintah pusat dan ditujukan untuk pemenuhan gizi siswa. Kondisi ini, menurutnya, justru merugikan sekolah dan berpotensi menghambat kesehatan anak-anak.
Kepala SD Negeri 3 Sindangsari, Ida Yulia Mega, mengungkapkan persoalan MBG bukan kali pertama terjadi. Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan pengaduan kepada pihak SPPG, namun belum mendapat respons yang memadai.
“Ini bukan kali pertama yang kami terima. Beberapa kali juga saya melakukan pengaduan, tetapi tidak ada respons dari pihak SPPG,” ujar Ida, Senin (12/1/2025).
Ia berharap ke depan pihak penyedia MBG dapat bekerja lebih profesional agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, baik di sekolahnya maupun di sekolah lain.
Sementara itu, Kepala SPPG Dapur Hajjah Lis, Abib Saputra, mengakui adanya kejadian tersebut. Ia menyatakan pihaknya telah meminta maaf dan akan segera melakukan evaluasi terhadap para pekerja.
“Kami sudah meminta maaf dan bertanggung jawab dengan memberikan susu serta obat-obatan ringan,” ujarnya.
Kasus ini kembali menambah catatan keluhan terhadap pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis, yang sejatinya dirancang sebagai penopang kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia.
(Ipul/Ayi)





















