Jejak Tato Mengakhiri Pelarian: Bos Yakuza Ditangkap Usai 13 Tahun Hidup sebagai “Hantu” di Thailand

Selama lebih dari satu dekade, Shigeharu Shirai hidup seolah lenyap dari dunia. Mantan petinggi sindikat kriminal terbesar Jepang, Yamaguchi-gumi, itu berhasil menghilang dari radar hukum setelah terlibat kasus pembunuhan besar pada 2003. Tanpa identitas resmi, tanpa catatan digital, Shirai menjelma menjadi “hantu” yang tak terdeteksi.

Pelariannya membawanya ke Lopburi, Thailand, sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk Tokyo. Di sana, ia menjalani hidup yang nyaris anonim—sebagai kakek tua sederhana yang menghabiskan hari-harinya bermain catur di pinggir jalan, bergaul dengan warga lokal yang tak mengetahui masa lalunya.

Namun, ada masa lalu yang tak bisa sepenuhnya dikubur.

Di balik pakaian lusuhnya, tubuh Shirai dipenuhi irezumi—tato tradisional Yakuza yang menutupi hampir seluruh badannya. Seni tubuh itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kesetiaan, hierarki, dan sejarah kekerasan dunia bawah Jepang. Lebih kentara lagi, ujung jari kelingkingnya yang terpotong, tanda ritual yubitsume, menjadi saksi bisu atas pelanggaran dan darah yang pernah ia bayarkan.

Ironisnya, pelarian Shirai berakhir bukan karena operasi intelijen tingkat tinggi, melainkan oleh sebuah unggahan media sosial.

Pada 2017, seorang pemuda lokal yang terkesan dengan tato unik Shirai memotretnya saat sedang bermain catur, lalu mengunggah foto itu ke Facebook. Gambar tersebut viral, melintasi batas negara, hingga akhirnya sampai ke tangan aparat Jepang yang telah lama memburunya. Pola tato dan ciri fisik itu tak terbantahkan.

Januari 2018, kepolisian Thailand mengepung tempat tinggal Shirai. Ia ditangkap tanpa perlawanan. Dengan senyum tipis di wajahnya, Shirai memahami satu hal: satu jepretan kamera telah meruntuhkan tembok persembunyian yang ia bangun selama 13 tahun.

Kisah Shirai menjadi pengingat global tentang realitas era digital. Di dunia yang terhubung tanpa batas, tak ada identitas yang benar-benar bisa disembunyikan. Sejauh apa pun seseorang melarikan diri, jejak masa lalu—entah berupa tato, kesalahan, atau satu unggahan di media sosial—akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

(**)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *