Menjelang HPN 2026, PWI Gelar Kemah Budaya di Baduy: Belajar Nurani, Etika, dan Kejujuran

Jakarta: Menjelang puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar Kemah Budaya di kawasan adat Baduy, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, pada 16–17 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema Belajar Mencintai dari Baduy.

Sebanyak 50 wartawan dan sastrawan dari berbagai provinsi mengikuti kegiatan ini. Mayoritas peserta—sekitar 80 persen—adalah perempuan, sejalan dengan komitmen PWI mendorong peran wartawati dan sastrawati dalam produksi karya jurnalistik dan sastra yang berperspektif kemanusiaan.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, didampingi Sekretaris Jenderal Zulmansyah Sekedang, saat melepas keberangkatan peserta di Kantor PWI Pusat, Jakarta, menekankan pentingnya penghormatan terhadap kearifan lokal Baduy. Ia mengingatkan agar seluruh pengalaman selama kemah diolah menjadi karya yang jujur, beretika, dan berorientasi pada pelestarian budaya.

“Baduy mengajarkan kesederhanaan, kejujuran, dan harmoni dengan alam. Nilai itu penting dijaga insan pers dalam setiap karya,” ujar Munir.

Setibanya di Rangkasbitung, peserta disambut Pemerintah Kabupaten Lebak di Museum Multatuli. Asisten Daerah III Pemkab Lebak Iyan Fitriyana menyatakan bahwa Baduy adalah identitas penting Lebak dan Banten. Ia berharap karya-karya yang lahir dari kegiatan ini memberi dampak positif bagi masyarakat adat dan penguatan literasi budaya.

Senada, Kepala Diskominfo Lebak Anik Sakinah menilai Kemah Budaya menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga alam dan tradisi leluhur.
Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat Ramon Damora menegaskan, Kemah Budaya bukan sekadar agenda seremonial jelang HPN.

“Ini refleksi jurnalistik. Wartawan belajar langsung nilai kehidupan agar karya tidak hanya informatif, tetapi juga berempati,” katanya.

Sebelum masuk kawasan Baduy, peserta diajak menelusuri Museum Multatuli untuk memahami sejarah antikolonialisme dan literasi. Perjalanan dilanjutkan ke Baduy Luar, tempat peserta bermalam di rumah warga dan merasakan langsung kehidupan tanpa listrik, tidur di lantai bambu, serta menyatu dengan keseharian masyarakat adat.

Peserta juga berdialog dengan Jaro Kanekes, mendengar petuah tentang pentingnya menjaga alam dan adat. Keesokan harinya, mereka menjelajah kampung dan menikmati hasil hutan Baduy yang tengah memasuki musim buah.

Dari kegiatan ini akan lahir sebuah buku bersama berisi feature jurnalistik, esai, puisi, dan cerpen. Buku tersebut dijadwalkan diluncurkan pada 8 Februari 2026, sehari sebelum puncak perayaan HPN di Banten—menjadi penanda bahwa pers tak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga merawat nilai.

(Rls)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *