Selamat Jalan Bang Syamsul…

Obituari

Oleh: Firman Seponada | Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung Periode 2003-2005

Eksprestoday.com : Senin pagi 16 Februari sembari bersiap berangkat ke Kotabumi, Lampung Utara, dalam sebuah urusan, saya sempatkan membuka aplikasi WhatsApp. Menggulir pesan-pesan yang belum terbaca sejak semalam saya menemukan pesan dari Mahmudiono. Ini teman lama saat menjadi wartawan Lampung Post dan Lampung TV. Saya buka, isi pesannya membikin saya tercekat. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Bang Syamsul meninggal jam 22.30 wib.

Syamsul Bahri Nasution adalah figur spesial di mata saya. Dia atasan di kantor sekaligus guru bagi saya. Kepergiannya terang saja membuat saya berduka. Saya cukup lama menjadi anak buah almarhum, mulai dari Lampung Post, Trans Sumatera, Lampungonline, hingga Lampung TV (LTV). Selama itu saya mengagumi gaya kepemimpinannya yang egaliter dan tak pernah kering dari ide-ide brilian untuk pengembangan media massa.

Bang Syamsul hadir di Lampung sekitar tahun 1992 menyusul almarhum Bambang Eka Wijaya yang lebih dulu tiba. Mereka merupakan bagian dari tim yang dikirim Surya Paloh melalui Surya Persindo Group untuk membenahi SKH Lampung Post yang baru diakuisi. Inilah dwi-tunggal Lampung Post yang dahsyat pada masa itu. Pak Bambang menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Perusahaan tampil sebagai simbol. Sedangkan Bang Syamsul menjadi Redaktur Pelaksana dan bertugas menjamin Lampung Post terbit sebagai koran bermutu.

Strateginya, Lampung Post mulai merekrut wartawan dengan pendidikan minimal S1 dari kalangan mantan aktivis mahasiswa. Lalu, melatih para wartawan rekrutan baru tersebut dengan intensif. Saya masuk dalam gelombang kedua strategi rekrutmen ini. Saya ingat betul, ketika ujian menjadi wartawan Lampung Post pada awal tahun 1995. Saya menghadapi soal-soal ujian setebal bantal. Isinya tes matematika, statistika, seputar jurnalistik, bahasa Indonesia, bahasa Ingris, dan pengetahuan umum. Mengerjakan soal mulai jam 9 pagi, skor sebentar untuk salat zuhur. Tidak makan siang karena kebetulan saat itu bulan Ramadan. Lalu, melanjutkan mengerjakan tes, istirahat lagi untuk salat ashar. Kemudian lanjut lagi dan selesai pukul 5 sore.

Jumlah soal yang harus dikerjakan 5 kali lebih banyak dibanding soal ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Tetapi alhamdulillah, saya menjadi satu dari 10 orang yang lulus ujian dan berhak mengikuti magang. Selama magang itu, satu bulan penuh kami mengikuti in-house training untuk mengasah keterampilan dan profesionalisme sebagai wartawan. Kami digembleng langsung oleh Bang Syamsul.

Masa magang ini cukup berat, terutama bagi kaum pemalas. Bayangkan saja, pukul 8 pagi kami sudah harus datang ke kantor untuk mengikuti rapat proyeksi. Ini rapat rutin yang dipimpin redaktur liputan dan dihadiri semua wartawan. Di sini wartawan boleh mengajukan ide liputan hari itu atau meliput berita yang ditugaskan oleh redaktur. Usai meliput, pulang ke kantor dan mulai menulis berita yang didapat hari itu. Malamnya, mulai pukul 8 sampai 11 malam, mengikuti in-house training di ruang Redaktur Pelaksana dengan Bang Syamsul sebagai pelatihnya. Itu kami jalani selama satu bulan penuh, setiap hari: Senin – Minggu.

Dari mengikuti pelatihan itu saya menyadari betapa tingginya keterampilan jurnalistik Bang Syamsul. Dia mengajari kami cara menulis lead (kepala berita) yang kuat. Almarhum menjelaskan tentang “anjing menggigit orang” bukanlah berita, yang disebut berita adalah “orang menggigit anjing”. Ini dia jelaskan secara implementatif karena sembari menguliti berita-berita yang pernah kami tulis sebagai wartawan pemula. Bang Syamsul sangat teliti soal bahasa, bahkan penempatan tanda baca, titik dan koma, dia jelaskan dengan terperinci.

Bang Syamsul memang serius berupaya menjadikan Lampung Post sebagai koran bermutu. Pertama-tama dengan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas wartawan melalui pelatihan intensif. Lalu menyiapkan kaidah bahasa jurnalistik dan perwajahan. Pada zaman Bang Syamsul di Lampung Post mulai ada korektor. Wartawan yang tugasnya khusus mengoreksi tulisan sebelum naik cetak. Tidak pandang bulu, semua tulisan dikoreksi, tak peduli tulisan Pemimpin Redaksi apalagi tulisan anak magang. Koreksinya mulai dari salah ketik, susunan kalimat, sampai ke penggunaan kata baku. Sehingga informasi menjadi lebih akurat. Akurasi memang mutiaranya karya jurnalistik. Sekali saja tulisan tidak akurat, medianya menjadi tidak profesional di mata pembaca.

Dari sisi perwajahan, Bang Syamsul mengenalkan teknik brace make up. Ini desain halaman yang menempatkan berita utama di pojok kanan atas. Sedangkan berita-berita pendukung diletakkan di bawahnya. Ia merupakan salah satu teknik tradisional untuk mengatur hierarki berita dan keseimbangan visual. Selain itu di antara tubuh berita disediakan ruang kosong cukup luas. Agar wajah koran tampil lebih segar, tidak menjadi seperti tumpukan huruf yang menjemukan. Warisan Bang Syamsul di Lampung Post memang sangat banyak. Koran jadi lebih enak dibaca karena menggunakan kaidah bahasa yang baik dan enak dipandang karena tata letak yang artistik.

Terhadap para wartawan yang nota bene anak buahnya, Bang Syamsul tidak asal memberi tuntutan berat. Dia berjuang menghargai wartawannya dengan kesejahteraan layak. Saya ingat betul, saat magang, saya mendapat honor antara Rp300 ribu dan Rp450 ribu per bulan. Ini honor yang besar karena harga emas saat itu masih Rp25 ribu per gram. Artinya, honor saya saat itu setara 10 gram emas per bulan. Sangat besar untuk ukuran wartawan magang.

Saya menjalani masa magang sekitar 9 bulan. Saat magang, wartawan mengambil honor di sekretariat redaksi. Setelah diangkat menjadi karyawan tetap, gaji ditransfer melalui Bank Bapindo (sekarang Bank Mandiri). Ketika menarik gaji pertama dari bank, saya terkejut. Sebab, gaji saya hanya Rp287 ribu per bulan. Padahal, saat magang honor saya di atas Rp300 ribu. Saya pun menghadap Kabag Keuangan Lampung Post, Pak Heyden Lubis. Saya menyampaikan protes. “Ya, kalau mau gaji besar magang aja terus,” kata Pak Heyden.

Mendapat jawaban tidak simpatik itu saya jengkel dan melapor ke Bang Syamsul. “Ah, dasar! Sabar dulu Man,” kata Bang Syamsul seperti marah. Beberapa bulan kemudian gaji saya tiba-tiba naik, menjadi di atas honor rata-rata saat magang. Ini pasti berkat perjuangan Bang Syamsul.

Insiden soal gaji ini kembali terjadi saat saya diangkat menjadi Asisten Redaktur Ekonomi. Gaji sudah naik sedikit, tetapi ada kawan menemukan slip gaji beberapa wartawan lapangan gajinya di atas saya. Mereka memang lebih senior beberapa bulan dari saya, tapi di struktur, posisi saya lebih tinggi. Temuan ini saya laporkan kepada Bang Syamsul. Akhirnya, bulan depan saya menerima gaji dua kali. Ditransfer lewat Bank Bapindo dan dari amplop pemberian Pak James Sinay, Direktur PT Masa Kini Mandiri. Gaji dobel ini saya terima beberapa bulan sampai gaji lewat Bank Bapindo disesuaikan. Ada tiga orang yang mendapat gaji dobel ini: saya, Oyos Saroso, dan Zainal Muttaqien (almarhum). Rupanya, kami bertiga sudah naik jabatan tetapi belum dilakukan penyesuaian gaji.

Selain memperjuangkan kesejahteraan wartawan, Bang Syamsul juga terkenal solider, setia kawan. Ini saya buktikan ketika pada pertengahan November 1999 hampir semua kru redaksi memilih hengkang dari Lampung Post akibat konflik manajemen. Saat itu Bang Syamsul sedang ditugaskan Surya Paloh di Jakarta untuk ikut merancang rencana Media Indonesia Grup mendirikan stasiun televisi. Rencana ini kemudian berwujud dengan hadirnya Metro TV yang tayang perdana pada 25 November 2000.

Bang Syamsul tidak ikut dalam sukses Metro TV. Sebab, sebelum TV ini tayang ia lebih memilih pulang ke Lampung menenangkan ratusan anak buahnya yang mogok kerja. Kepada Bang Syamsul kami berkeras tidak mau kembali bekerja di Lampung Post. Akhirnya kami sepakat mendirikan koran sendiri. Bang Syamsul kemudian mencari investor dan terbitlah SKH Trans Sumatera mulai 6 Desember 1999. Tetapi koran yang cukup fenomenal itu tidak berumur panjang. Tak kuat memikul beban biaya operasional, pada akhir 2001 Trans Sumatera mengibarkan bendera putih.

Gagal membangun Trans Sumatera, Bang Syamsul tidak lantas kehilangan ide. Dia mengajak beberapa rekan yang masih setia, termasuk saya, untuk membuat situs berita online. Berkantor di rumah Bang Syamsul di dekat Terminal Rajabasa, lahirlah Lampungonline.com. Ini boleh disebut sebagai cikal-bakal menjamurnya media-media online di Lampung. Kala itu di tingkat nasional ada dua media online mainstream, yang terpercaya dan menjadi rujukan. Pertama, astaga.com yang dikelola Desi Anwar dan yang kedua detik.com, dikelola sejumlah mantan wartawan majalah Tempo, tabloid Detik, dan majalah SWA.

Domain Lampungonline.com dibuat untuk menyajikan berita terkini secara real time. Berita-beritanya sering dicomot begitu saja tanpa menyebutkan sumber oleh tabloid-tabloid mingguan yang kala itu terbit menjamur di Lampung. Tetapi karena banyak wartawannya mulai kehilangan fokus dan sebagian sudah bekerja di bidang lain, Lampung Online hanya berjalan beberapa tahun kemudian menghilang.

Akan tetapi, semangat Bang Syamsul di dunia jurnalistik tak pernah padam. Pada tahun 2007, dia dipercaya memimpin Lampung TV (LTV), sebuah TV lokal yang baru saja diambil-alih oleh MNC Group milik Hary Tanoesoedibjo. Saya juga dilibatkan dalam proyek ini. Saya mula-mula ditugaskan melatih para wartawan muda LTV kemudian dipercaya menjadi koordinator liputan dan produser beberapa program.

Bang Syamsul berniat menjadikan LTV sebagai TV berita. Itulah kenapa hadir program Cekal untuk menyajikan seputar berita kriminal dan Lnews untuk menayangkan berita-berita umum. Di LTV kreativitasnya makin teruji. Dia bahkan sering melakukan hal-hal yang bahkan belum terpikir oleh para anak buahnya. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, Bang Syamsul berani melakukan siaran langsung on the spot. Dia mengenalkan jimmy jeep kepada para kameraman yang selama ini cuma mengenal tripod dalam pengambilan video.

Namun, karena perbedaan visi dengan manajemen MNC Group soal komposisi siaran lokal dan nasional, pada 2011 Bang Syamsul memutuskan keluar dari LTV. Manajemen memangkas muatan lokal secara drastis dari 4 jam sehari menjadi hanya satu jam. Pengurangan jam siar lokal ini menyebabkan beberapa program terpaksa dihapus. Bang Syamsul menolak keadaan ini. Dia tidak mau menjadi sekadar penjaga menara pemancar. Dia ingin LTV sungguh-sungguh menjadi milik masyarakat Lampung dan wadah kreativitas bagi para krunya.

Keluar dari LTV, berbekal kecerdasan di atas rata-rata dan visi ke depan, Bang Syamsul kemudian merambah platform digital. Dia mulai membaca arah angin. Saat itu telepon android mulai semarak. Koran dan televisi mulai ditinggalkan pembaca dan pemirsa. Orang-orang mulai beralih ke smartphone dalam mencari informasi.

Membuka akun di kanal YouTube, bersama sedikit personel Bang Syamsul mulai mengelola Lampung TV. Karena menyajikan fakta secara faktual, lugas dan berani, Lampung TV mampu meraih ratusan ribu penonton. Sampai sekarang media ini sudah memiliki 53 ribu subscribers. Sebuah angka yang luar biasa untuk ukuran media lokal dan belum lama mengorbit.

Selama mengenal beliau, saya tidak pernah melihat Bang Syamsul sakit. Yang saya tahu almarhum perokok berat. Pernah suatu hari saat menghadiri pernikahan putri Prof. Dr. Moh. Mukri, kami duduk satu meja. Ada Heri Wardoyo dan beberapa orang yang saya lupa. Saya bersama istri dan Bang Syamsul didampingi Kak Umi, istrinya. Sambil memijat-mijat batang rokok Djie Sam Soe sebelum disulut, Bang Syamsul bercerita. Dulu, saat kuliah di Bandung dia punya teman karib yang tidak merokok. “Teman saya ini sudah meninggal duluan, beberapa tahun lalu. Jadi, rokok tidak ada hubungan dengan umur,” kata Bang Syamsul disambut tawa kami dan cemberut Kak Umi.

Satu hal, konsistensinya di bidang jurnalistik tidak pernah putus. Terakhir saya mendengar kabar beliau berencana membangun lembaga pendidikan jurnalistik di Jatiagung, Lampung Selatan. Lewat lembaga ini dia hendak mencetak wartawan tangguh dan profesional. Wartawan yang bukan cuma cakap merencanakan gagasan liputan dan menyajikannya ke publik sebagai produk jurnalistik berkualitas. Lebih dari itu, dia ingin melahirkan wartawan-wartawan yang secara teguh menjalankan elemen-elemen jurnalisme.

Kabar terakhir Bang Syamsul akan mendirikan stasiun TV. Setelah format siaran berubah dari analog ke digital, jumlah stasiun televisi memang berpeluang menjadi lebih banyak, berkali-lipat dibanding zaman analog. Karena itu, proses perizinannya juga relatif lebih mudah dan murah. Konon, persiapannya sudah 80 persen.

Akan tetapi takdir berkata lain, dia tak sempat meluncurkan satu gagasan besar lagi karena Allah keburu memanggilnya. Minggu malam 15 Februari 2026 Bang Syamsul masih memimpin rapat dengan kru Lampung TV. Di tengah jalannya rapat dia meminta rapat ditunda sembari memijat-mijat dadanya yang nyeri. “Saya sudah gak kuat lagi,” kata Bang Syamsul.

Beliau lalu masuk kamar dan meminta Kak Umi memijat pundaknya. Sekitar pukul 10 malam, Hanif, putra bungsu Bang Syamsul berlari dengan panik ke lantai dua rumah yang berfungsi sebagai kantor Lampung TV. Dia meminta para wartawan melihat kondisi ayahnya. Di lantai satu Bang Syamsul sudah terbaring di ubin beralas ambal dalam keadaan pingsan. Kawan-kawan segera melarikannya ke RS Urip Sumoharjo. Tetapi, pukul 22.30 wib Bang Syamsul mengembuskan nafas terakhirnya. Hasil diagnosis dokter UGD yang sempat merawatnya, Bang Syamsul terkena komplikasi jantung dan asam lambung.

Syamsul Bahri Nasution saya kenal sebagai batak muslim yang taat. Maklum, dia lahir dari lingkungan santri. Keluarga besarnya memiliki sebuah pondok pesantren besar di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Lahir di Panyabungan pada 02 Juni 1961, Bang Syamsul besar, kuliah, dan memulai karir wartawan di Tanah Pasundan. Lalu, menghabiskan lebih dari separo umurnya untuk mewarnai iklim dunia pers di Bumi Ruwa Jurai.

Memiliki dua putra dan satu putri, Bang Syamsul sudah menjelma menjadi orang Lampung. Terbukti, Aviv Abdulah Nasution putra sulungnya dan Firda Nasution putrinya, semuanya menikah dengan orang Lampung. Aviv kini bekerja di Dijten Pajak Kemenkeu. Sedangkan Firda, turut suaminya menetap di Austria. Kak Umi, kini ditemani Hanif, si bungsu yang mewarisi tubuh besar ayahnya.

Jenazah Bang Syamsul disemayamkan di rumah duka, Jalan Perwira 3, Rajabasa dan dimakamkan di TPU Beringin Raya Kemiling, dekat SMPN 13, Kota Bandarlampung, bakda Zuhur.

Kami sungguh kehilangan figur pemimpin, guru, sekaligus sahabat yang layak menjadi panutan karena pandangan visioner, kepandaian, kebaikan, dan kerendahan hatinya. Terima kasih atas segala kontribusi dan bantuan yang pernah Abang berikan. Semoga Allah SWT menjadikan semua warisan kebaikan Abang sebagai ladang amal yang tak pernah putus. Selamat jalan Bang Syamsul….

(Firman Seponada)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *