Bandar Lampung: Dari sudut desa di Lampung, nama Siti Novita Sari mendadak mencuri perhatian nasional. Mahasiswi S1 Pendidikan Olahraga Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan Universitas Teknokrat Indonesia ini terpilih sebagai narasumber utama dalam dokumenter internasional bertajuk FIFA Women’s Football Coaches – Success Story.
Sorotan ini bukan sekadar prestasi personal, melainkan simbol lahirnya generasi baru pelatih sepak bola wanita Indonesia yang mulai diakui di level global.
Program dokumenter tersebut merupakan bagian dari kolaborasi FIFA melalui skema Coach Education Scholarship bersama PSSI. Fokusnya jelas: membangun fondasi kuat sepak bola wanita Indonesia dari sektor kepelatihan, termasuk posisi krusial pelatih penjaga gawang.
Jejak dari Desa, Tembus Standar Dunia
Lahir di Kabupaten Mesuji pada 2005, Siti membawa narasi kuat tentang perjuangan anak daerah. Dari lingkungan sederhana, ia menapaki jalan panjang hingga dipercaya menjadi representasi pelatih kiper wanita Indonesia di panggung internasional.
Perannya sebagai goalkeeper coach perempuan menjadi sorotan tersendiri di tengah dominasi laki-laki dalam dunia kepelatihan. Kehadirannya dalam dokumenter FIFA menjadi bukti bahwa kompetensi pelatih lokal mulai mampu menembus standar profesional global.
Lebih dari Sekadar Dokumenter
Dokumenter ini tidak hanya mengangkat kisah individu, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar transformasi sepak bola wanita Indonesia. Ada tiga misi utama yang diusung:
Meningkatkan kualitas pelatih kiper melalui pendekatan modern dan analisis performa
Mempercepat perkembangan sepak bola wanita dari level akar rumput hingga tim nasional
Membuka ruang kepemimpinan bagi perempuan di dunia kepelatihan
Dengan kata lain, kisah Siti adalah wajah dari perubahan yang sedang dibangun.
Kebanggaan Kampus dan Daerah
Pencapaian ini mendapat apresiasi dari pihak kampus. Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, menyebut Siti sebagai contoh nyata mahasiswa yang mampu menjadi agen perubahan.
“Ia membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu memberi dampak nyata di tingkat internasional,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan ini diharapkan memicu keberanian mahasiswa lain, khususnya perempuan, untuk menembus batas dan berkiprah di bidang yang selama ini minim representasi.
Di tengah upaya Indonesia membangun ekosistem sepak bola wanita yang lebih kompetitif, kehadiran sosok seperti Siti Novita Sari menjadi angin segar.
Ia bukan hanya membawa nama kampus atau daerah, tetapi juga harapan baru bahwa talenta dari pelosok mampu bersaing di panggung dunia. Dari Mesuji, langkah itu kini telah menembus FIFA. (Kotan)























