Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, ironi justru terasa kian nyata: manusia makin kesepian. Teknologi mempercepat komunikasi, tetapi tidak selalu memperdalam relasi.
Ritme hidup yang cepat, tekanan ekonomi, serta tuntutan produktivitas yang tinggi sering kali menggerus ruang kebersamaan. Banyak orang tampak kuat secara sosial, tetapi rapuh secara emosional karena kehilangan sistem pendukung yang sehat.
Situasi ini sejatinya paradoks bagi bangsa Indonesia. Kita memiliki warisan sosial bernama gotong royong—nilai yang sejak lama menjadi penopang kehidupan bersama.
Namun, dalam praktik sehari-hari, gotong royong kerap direduksi menjadi aktivitas seremonial atau kerja kolektif insidental. Padahal, pada hakikatnya, gotong royong adalah fondasi relasional yang memungkinkan manusia bertahan dan berkembang sebagai makhluk sosial.
Manusia tidak pernah hidup sepenuhnya sebagai individu yang berdiri sendiri. Sejak lahir, manusia tumbuh melalui relasi—keluarga, lingkungan, dan komunitas.
Dukungan emosional, rasa aman, serta pengakuan sosial merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat digantikan oleh pencapaian material semata. Ketika relasi-relasi ini melemah, berbagai persoalan muncul, mulai dari kesepian kronis hingga krisis makna hidup.
Dalam konteks tersebut, gotong royong perlu dipahami secara lebih utuh sebagai lingkar relasi. Lingkar Gotong Royong bukan sekadar tindakan memberi bantuan, melainkan jejaring hubungan yang setara, timbal balik, dan berkelanjutan.
Disebut lingkar karena setiap individu berada dalam posisi yang sama—kadang memberi, kadang menerima—tanpa stigma maupun hierarki.
Lingkar gotong royong hadir dalam berbagai lapisan kehidupan. Pada lingkar terdekat, ia hidup dalam keluarga dan persahabatan sebagai ruang aman tempat seseorang dapat diterima apa adanya.
Pada lingkar komunitas, gotong royong tumbuh melalui hubungan antar tetangga, kelompok kerja, dan organisasi sosial. Sementara pada lingkar yang lebih luas, nilai ini tercermin dalam solidaritas sosial dan kebijakan publik yang berpihak pada kemanusiaan.
Ketika lingkar-lingkar tersebut berfungsi dengan baik, individu memiliki tempat untuk kembali, berbagi, dan memulihkan diri. Sebaliknya, ketika lingkar ini rapuh, manusia dipaksa menanggung beban hidup seorang diri.
Tidak mengherankan jika isu kesehatan mental semakin mengemuka dalam masyarakat modern. Banyak persoalan psikologis hari ini bukan sekadar masalah personal, melainkan gejala sosial akibat terputusnya relasi yang bermakna.
Pengalaman berbagai krisis—mulai dari bencana alam hingga tekanan ekonomi—menunjukkan bahwa kekuatan utama masyarakat Indonesia terletak pada solidaritas warganya.
Dalam banyak situasi darurat, gotong royong justru menjadi mekanisme pertama yang bekerja sebelum sistem formal hadir secara optimal. Fakta ini menegaskan bahwa gotong royong bukan romantisme masa lalu, melainkan fondasi ketahanan sosial yang relevan hingga hari ini.
Tantangan ke depan bukan hanya menjaga gotong royong sebagai slogan budaya, melainkan menghidupkannya kembali sebagai praktik sadar.
Di keluarga, komunitas, tempat kerja, hingga dalam perumusan kebijakan publik, gotong royong perlu dipahami sebagai investasi sosial jangka panjang.
Menguatkan Lingkar Gotong Royong berarti menjaga martabat manusia.
Setiap individu tidak diposisikan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek yang berdaya dan bermakna bagi sesamanya.
Di tengah zaman yang kian terfragmentasi, menghidupkan kembali gotong royong bukan sekadar soal merawat tradisi, melainkan tentang merawat kemanusiaan itu sendiri.
Oleh: Aris Tama
Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA)






















