Inflasi Nasional Melandai, Lampung Jadi Salah Satu Daerah Paling Terkendali

BANDAR LAMPUNG : Laju inflasi nasional pada Maret 2026 mulai menunjukkan tren pelambatan setelah sempat meningkat di awal tahun. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,48 persen, turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,76 persen.

Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,41 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di angka 0,94 persen. Kondisi ini mengindikasikan mulai stabilnya harga sejumlah komoditas setelah mengalami tekanan pada periode sebelumnya.

banner 728x90

Kenaikan harga pada Maret terutama dipicu oleh komoditas pangan dan energi. Ikan segar dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil masing-masing 0,06 persen. Disusul bensin sebesar 0,04 persen, serta angkutan antarkota dan beras masing-masing 0,03 persen.

Sementara secara tahunan, inflasi didorong oleh kenaikan tarif listrik dan harga emas perhiasan, dengan kontribusi masing-masing 0,97 persen dan 0,96 persen.

Selain itu, komoditas pangan seperti daging ayam ras, ikan segar, dan beras juga masih memberikan tekanan, meski relatif terkendali.
Di tingkat regional, disparitas inflasi masih terlihat cukup lebar.

Provinsi Aceh mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,31 persen, sedangkan Kota Gunungsitoli menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di level kabupaten/kota mencapai 6,30 persen. Sebaliknya, Kabupaten Minahasa Utara mengalami deflasi sebesar 0,31 persen.

Di tengah variasi tersebut, Provinsi Lampung justru mencatat kinerja pengendalian inflasi yang menonjol. BPS Provinsi Lampung melaporkan inflasi tahunan hanya sebesar 1,16 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 110,32—jauh di bawah rata-rata nasional.

Rendahnya inflasi di Lampung mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga, terutama pada kelompok pengeluaran utama seperti perumahan, energi, serta makanan dan minuman.

Meski sejumlah komoditas seperti tarif listrik, emas perhiasan, dan bahan pangan masih menyumbang inflasi, tekanan yang terjadi dinilai tetap terkendali.

Pemerintah Provinsi Lampung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah antisipatif. Strategi yang dijalankan mencakup pengawasan distribusi bahan pokok, pemantauan harga rutin, operasi pasar, hingga kerja sama antar daerah untuk menjaga keseimbangan pasokan.

Dengan tren inflasi yang mulai melandai, stabilitas harga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

(Tri Sanjaya)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *