LAMPUNG TIMUR – Musibah kebakaran yang meluluhlantakkan rumah seorang ustadz pengasuh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kabupaten Lampung Timur berubah menjadi kisah haru yang membuat warga tak kuasa menahan air mata.
Di tengah puing-puing rumah yang masih menghitam, seorang anak memilih menunda impiannya sendiri demi membahagiakan ibu kandungnya.
Rumah milik Ustadz Ahmad Fathoni, pengasuh TPQ Darul Qur’an di Dusun 12, Desa Sribawono, Kecamatan Bandar Sribawono, hangus terbakar pada Jumat (29/5/2026) sekitar pukul 13.20 WIB.
Api melalap habis rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarga sekaligus pusat belajar Al-Qur’an bagi lebih dari 50 santri. Tak banyak barang yang berhasil diselamatkan.
Di tengah duka tersebut, kabar kebakaran rupanya sampai ke telinga Danang Setya, pemilik perusahaan AWater dan HS Wilayah Sumatera. Informasi itu diterima melalui sang kakak, Hj. Endang, yang saat kejadian berada di wilayah Sribawono.
Malam harinya, Danang langsung menghubungi keluarga korban melalui sambungan video call yang turut difasilitasi pemerintah desa.
“Saya turut prihatin atas musibah ini. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengganti dengan yang lebih baik,” ujar Danang kepada keluarga korban.
Tak hanya menyampaikan simpati, Danang juga menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp20 juta dan satu paket umrah gratis untuk Ustadz Ahmad Fathoni.
Mendengar bantuan tersebut, sang ustadz tak kuasa membendung air mata. Namun siapa sangka, hadiah umrah yang menjadi impian banyak orang justru tak ia simpan untuk dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Sabtu (30/5/2026), bantuan diserahkan langsung oleh Direktur AWater, Hj. Endang, bersama jajaran perusahaan dan pemerintah desa.
Saat suasana masih dipenuhi rasa haru, Ustadz Ahmad Fathoni tiba-tiba menyampaikan sebuah permintaan yang membuat seluruh warga terdiam.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia mengangkat tangan meminta izin.
“Saya mohon maaf sebelumnya. Saya punya niat sejak lama. Kalau suatu hari Allah memberi saya kesempatan ke Tanah Suci, saya ingin memberikannya kepada ibu saya,” ucapnya lirih.
Ia lalu meminta izin agar hadiah umrah tersebut dialihkan kepada sang ibu tercinta, Ibu Fatimah.
Permintaan itu sontak membuat suasana hening.
“Kalau itu keinginan Pak Ustadz, Insya Allah lebih berkah. Hadiah itu sudah menjadi hak panjenengan,” jawab Hj. Endang menenangkan.
Belum selesai ucapan itu, tangis Ustadz Ahmad Fathoni pecah.
Di hadapan warga, relawan, perangkat desa, dan keluarga, ia langsung bersimpuh serta sungkem di kaki sang ibu.
Tangis pecah di lokasi. Banyak warga tak kuasa menahan air mata melihat pemandangan tersebut.
Di tengah rumah yang telah rata dengan tanah, tersaji pemandangan yang jauh lebih mahal dari harta benda: bakti seorang anak kepada ibu kandungnya.
“Saya tidak akan pernah bisa membalas jasa ibu saya. Beliau yang melahirkan, membesarkan, dan selalu mendoakan saya,” ujar Ahmad Fathoni dengan mata sembab.
Menurutnya, selama ini sang ibu adalah sosok yang tak pernah berhenti memberi doa dan dukungan dalam hidupnya.
“Saya ingin ibu melihat Ka’bah, berziarah ke makam Rasulullah SAW, dan merasakan menjadi tamu Allah,” tuturnya.
Ahmad Fathoni juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarganya pascakebakaran.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik musibah, terkadang hadir pelajaran hidup yang tak ternilai. Ketika rumah hangus terbakar, cinta seorang anak kepada ibu ternyata tetap berdiri kokoh—tak ikut hangus bersama puing-puing yang tersisa.
(Red/Prie/Aldo)























