Bandar Lampung : Kiprah perempuan Lampung kembali mendapat panggung di tingkat nasional. Sejumlah pegiat seni asal Sai Bumi Ruwa Jurai akan tampil dalam peluncuran buku Puisi 68 karya penyair senior Isbedy Stiawan ZS di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Mereka tidak sekadar menjadi tamu undangan, melainkan dipercaya mengisi sejumlah sesi penting dalam perayaan sastra yang sekaligus menandai ulang tahun ke-68 Isbedy. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat bahwa geliat sastra Lampung terus hidup dan mendapat tempat di panggung nasional.
Fitri Angraini akan memandu diskusi yang menghadirkan kritikus sastra Nanang R. Supriyatin dan Isbedy Stiawan ZS sebagai pembicara utama. Sementara pembacaan puisi akan diisi Dzafira Adeliaputri Isbedy, siswi SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro yang menjadi pembaca puisi termuda, bersama Terry Lestari, Iin Zakaria yang dikenal sebagai “Ratu Dongeng”, serta Erika Novalia Sani.
Fitri mengatakan, para perempuan tersebut selama ini menjadi bagian dari perjalanan berkesenian Isbedy, baik melalui Lamban Sastra maupun dalam berbagai kegiatan literasi.
“Mereka datang dengan biaya sendiri. Itu menunjukkan dedikasi dan kecintaan terhadap puisi yang tidak bisa diukur dengan materi,” ujarnya.
Menurut dosen dan pegiat sastra Lampung itu, keterlibatan perempuan lintas generasi membuktikan bahwa kecintaan terhadap sastra tidak dibatasi usia.
“Anak muda hingga yang sudah lama berkesenian bisa berdiri di panggung yang sama. Itu yang membuat sastra tetap hidup,” katanya.
Ia juga menyoroti masih minimnya dukungan terhadap kegiatan seni dan budaya. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para pelaku seni untuk terus berkarya.
“Kesenian lahir dari hati dan jiwa. Karena itu, kami ingin membuktikan bahwa sastra tetap bisa hidup meski tanpa bergantung pada bantuan pemerintah,” tegas Fitri.
Dalam kesempatan itu, Isbedy menjelaskan Puisi 68 diterbitkan Lampung Literature pada Juni 2026 sebagai penanda usianya yang genap 68 tahun. Buku tersebut memuat 68 puisi pilihan yang merekam perjalanan kreatifnya sebagai penyair.
Sampul buku dirancang Ulil Amri MB menggunakan lukisan karya Afnan Malay, sementara tata letak dikerjakan Chandra Aria Wicaksono. Bagian epilog ditulis oleh Fitri Angraini. Buku edisi khusus tersebut dipasarkan dengan harga Rp90 ribu.
Peluncuran Puisi 68 merupakan kolaborasi Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, PDS HB Jassin, serta Pojok TIM.
Menurut Yon Bayu Wahyono dari Pojok TIM, salah satu momen yang paling dinanti adalah penampilan Kepala Dinas Perpustakaan DKI Jakarta sekaligus Kepala PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim, yang untuk pertama kalinya dijadwalkan membacakan puisi di depan publik.
Selain itu, panggung sastra tersebut juga akan menghadirkan sejumlah nama besar, di antaranya Jose Rizal Manua, Helvy Tiana Rosa, Imam Ma’rif, Humam S. Chudori, Syaifuddin Gani, Nia Samsihono, Wig SM, Nunung Noor El Niel, dengan Rissa Churia bertindak sebagai pewara.
Bagi Lampung, kehadiran para perempuan tersebut bukan sekadar partisipasi dalam sebuah peluncuran buku, tetapi juga menjadi penegasan bahwa daerah ini terus melahirkan pegiat sastra yang mampu tampil sejajar di panggung sastra Indonesia. (*/rls)























