Kerisuhan Piala Soeratin U-17 di Mesuji Berakhir Damai, PSSI, Panpel hingga pihak Keamanan Gelar Mediasi

MESUJI — Insiden yang sempat memicu kericuhan pada laga perempat final Piala Soeratin U-17 Gubernur Lampung antara Persilu Lampung Utara melawan Pesikomet Kota Metro akhirnya resmi berakhir damai. Laga yang berlangsung di Lapangan A1 Mukti Karya, Kecamatan Panca Jaya, Kabupaten Mesuji pada Selasa (18/8/2026) tersebut dituntaskan secara kekeluargaan melalui ruang mediasi.

​Proses mediasi yang difasilitasi oleh Panitia Pelaksana (Panpel) Asprov PSSI Lampung, operator pertandingan, dan Askab PSSI Mesuji ini digelar di Sekretariat PSSI Mesuji pada Rabu (19/8/2026). Agenda tersebut dihadiri oleh manajemen kedua tim, perwakilan Asprov PSSI Lampung, Ketua Askab PSSI Mesuji Budi Yuhanda, serta Kapolsek Simpang Pematang Kompol Eri Hafri, S.H., M.H. selaku pihak keamanan.

banner 728x90

​Ketua Askab PSSI Mesuji, Budi Yuhanda, menyayangkan insiden yang mencoreng panggung sepak bola usia muda ini. Sebagai tuan rumah, ia menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai fair play dan menahan emosi di dalam lapangan.

​”Kami selaku tuan rumah tentu sangat mengharapkan iklim kompetisi ini di Mesuji dapat berjalan kondusif. Hal ini tentunya akan menjadi evaluasi menyeluruh yang akan dilakukan, baik terhadap kepemimpinan wasit maupun kedisiplinan tim. Harapan kita, insiden seperti ini tidak terulang kembali agar pembinaan sepak bola usia muda di Lampung tetap berada di jalur yang benar,” tegas Budi Yuhanda.

​Di tempat yang sama, Kapolsek Simpang Pematang Kompol Eri Hafri, S.H., M.H. menegaskan komitmen kepolisian dalam mengawal jalannya turnamen hingga tuntas, seraya mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah demi keselamatan bersama.

​”Keamanan dan keselamatan warga serta para atlet adalah prioritas utama kami. Kami bertindak cepat meredam gesekan agar tidak meluas dan bersyukur mediasi ini melahirkan kesepakatan damai. Kami mengimbau seluruh official, pemain, hingga suporter untuk selalu menahan diri dan menghormati proses hukum serta regulasi olahraga yang berlaku. Selain itu tentunya, para personel berkomitmen terkait keamanan siap mengawal ketat seluruh sisa laga hingga partai final agar berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ungkap Kompol Eri Hafri.

​Meskipun menerima hasil pertandingan yang telah ditetapkan panitia, pihak manajemen Persilu Lampung Utara menegaskan bahwa keributan bukan dipicu oleh perselisihan antar pemain maupun official kedua tim. Gesekan murni terjadi akibat kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai kontroversial dan merugikan.

​Kericuhan bermula saat tendangan pemain Persilu membentur mistar dan melewati garis gawang, namun tidak disahkan sebagai gol oleh wasit. Kekecewaan memuncak saat sesi adu penalti, ketika tendangan pemain Pesikomet yang dinyatakan tidak gol oleh hakim garis justru disahkan menjadi gol oleh wasit utama.
​”Jerih payah kami dan latihan keras anak-anak kami selama ini seolah hancur begitu saja akibat keputusan wasit yang kami nilai tidak adil,” ungkap perwakilan official Persilu dalam rapat mediasi tersebut.

​Beruntung, aksi pengejaran terhadap wasit dapat diredam dengan cepat oleh petugas keamanan di lapangan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Melalui mediasi ini, seluruh pihak sepakat menerima hasil pertandingan dan berkomitmen menjaga kondusivitas kompetisi hingga partai final yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus mendatang. (Kotan).

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *