Yuliana Sagala Berpulang, Jejak Mantan Kajari Lampung Utara hingga Jajaran Pimpinan Kejaksaan

LAMPUNG UTARA : Dunia kejaksaan kehilangan salah satu sosok perempuannya. Yuliana Sagala, jaksa yang pernah memimpin Kejaksaan Negeri (Kejari) Lampung Utara, meninggal dunia pada Senin, 26 Oktober 2026, dalam usia 50 tahun.

Kabar itu datang ketika perjalanan karier Yuliana masih menyisakan jejak panjang di tubuh Korps Adhyaksa. Ia meninggalkan dunia penegakan hukum setelah melewati sejumlah posisi strategis, dari kejaksaan negeri hingga jajaran pimpinan kejaksaan tinggi.

banner 728x90

Bagi Lampung Utara, nama Yuliana bukan sekadar bagian dari daftar pejabat yang pernah menduduki kursi Kajari. Ia pernah menjadi wajah institusi penegak hukum di daerah itu sebelum kariernya terus bergerak menuju panggung yang lebih tinggi.

Kabar meninggalnya Yuliana dikonfirmasi Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung melalui akun Instagram resminya pada Senin. Dalam unggahan tersebut, Kejati Babel menyampaikan duka mendalam atas kepergian mantan Wakajati Babel itu.

“Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan,” demikian keterangan Kejati Babel.

Sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis di Kejaksaan Agung dan kejaksaan tinggi, Yuliana pernah dipercaya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Lampung Utara pada 2018 silam.

Jabatan tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya. Dari Lampung Utara, langkah Yuliana kemudian berlanjut ke lingkungan Kejaksaan Agung sebagai Kepala Bagian Tata Usaha pada Sekretariat Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen.

Perjalanan itu memperlihatkan pola karier yang terus menanjak. Setelah bertugas di pusat, Yuliana mendapat kepercayaan memimpin Kejari Denpasar, Bali, pada 2021.

Dari sana, ia kembali dipercaya mengisi posisi strategis di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta sebagai Asisten Pembinaan. Kariernya kemudian berlanjut sebagai Koordinator pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung.

Jalur panjang itu akhirnya membawanya ke jajaran pejabat eselon II. Pada 2024, Yuliana dipercaya menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Banten.

Setahun berselang, pada Oktober 2025, ia dipindahkan sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung. Jabatan tersebut menjadi salah satu amanah terakhirnya di lingkungan kejaksaan tinggi sebelum kemudian kembali mendapat penugasan sebagai koordinator pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen.

Namun, di balik perjalanan karier yang terus bergerak, kondisi kesehatan Yuliana mulai menurun.

Ia dilaporkan menjalani perawatan medis akibat kondisi kesehatan yang berkepanjangan. Hingga pada Senin, 26 Oktober 2026, kabar kepergiannya datang.

Yuliana lahir pada 28 Juli 1976. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
Pendidikan hukum itu menjadi pintu masuk menuju dunia kejaksaan. Sebagai jaksa perempuan, ia meniti karier dari bawah hingga dipercaya menduduki sejumlah jabatan yang tidak ringan.

Kariernya sekaligus menggambarkan perjalanan seorang aparat penegak hukum perempuan yang berhasil menembus berbagai jenjang struktural di institusi kejaksaan.

Ada ruang-ruang kerja yang pernah ia lewati, ada perkara-perkara yang pernah ia hadapi, dan ada institusi yang pernah ia pimpin. Salah satunya adalah Kejari Lampung Utara.

Kini, kursi-kursi jabatan itu akan ditempati nama lain. Tetapi jejak seorang pejabat tidak selalu selesai ketika masa tugasnya berakhir.

Di Lampung Utara, nama Yuliana menjadi bagian dari sejarah perjalanan Kejari. Dari daerah itu, kariernya terus bergerak hingga mencapai jajaran pimpinan kejaksaan tinggi.

Kehilangan di Tengah Perjalanan
Kepergian Yuliana juga meninggalkan ruang kosong bagi keluarga, kolega, dan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Di tengah karier yang panjang, ia dikenal cukup aktif menggunakan media sosial. Aktivitas kedinasan dan kehidupan sebagai aparat penegak hukum kerap dibagikan melalui kanal tersebut. Ia bahkan memiliki puluhan ribu pengikut.
Namun, Senin itu, aktivitas tersebut berhenti.

Tidak ada lagi agenda kedinasan yang harus dijalankan. Tidak ada lagi jabatan yang menunggu laporan. Tidak ada lagi perjalanan dinas menuju kantor atau ruang rapat.

Bagi institusi kejaksaan, Yuliana pergi sebagai seorang jaksa yang pernah dipercaya menduduki sejumlah posisi penting. Bagi Lampung Utara, ia meninggalkan satu catatan tersendiri, pernah memimpin Kejari Lampung Utara sebelum namanya terus bergerak hingga ke jajaran pimpinan kejaksaan tinggi.
Yuliana Sagala telah menutup perjalanan kariernya.

Tetapi jejaknya di Korps Adhyaksa, termasuk di Kejari Lampung Utara, akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdiannya.

Selamat jalan, Yuliana Sagala.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *