Jakarta: Peluncuran buku Puisi 68 karya Isbedy Stiawan ZS di PDS HB Jassin, Rabu 15 Juli 2026 petang, dihadiri Presiden Penyair Indoenesi, Sutardji Calzoum Bachri. Bahkan, penulis buku puisi O,Amuk, Kapak tersebut memberikan testimoni untuk kepenyairan dan karya-karya Isbedy.
Menurut Sutardji yang pernah menulis esai terhadap puisi-puisi Isbedy yang dimuat Kompas bertajuk “Isbedy dan Lain Ikhwal tentang Isbedy” mengatakan, produktivitas Isbedy dalam menulis puisi tetap menjaga kualitas. Hal itu jarang ditemui di penyair Indonesia lainnya.
“Saya lihat Isbedy memang produktif dalam berkarya, namun kualitas dari puisi-puisinya tetap terjaga,” ujar Sutardji.
Ia melanjutkan, kecintaan kepada puisi mengantar pada Isbedy tetap mementingkan kualitas. Isbedy, kata Sutardji, memilih menjadi penyair adalah kesetiaan menjaga kata-kata. “Bagi Isbedy hal itu sudah tak ada masalah, ia telah melewati kendala yang biasa dihadapi oleh penyair,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Sutardji mengakui, kedekatannya pada puisi-puisi Isbedy sejak 1987-an. Hal itu juga diakui penyair Isbedy yang dijuluki Paus Sastra Lampung oleh HB Jassin. “Saat Forum Penyair Indonesia 87, Sutardji menyebut penyair muda yang kuat dalam puisi-puisinya disebut sebagai “penyair masa depan”. “ini terbukti bahwa kami yang hadir di Forum Puisi 87 masih berkarya,” kata Isbedy.
Penyair yang meluncurkan buku sekaitan Milad 68 tahun dan Bincang Karya yang menghadirkan Nanang R. Supriyatin dan Isbedy, serta dimoderatori Fitri Angraini, S.S., M.Pd. ini dihadiri sekitar 65 undangan. Di antara audiens itu tampak Fatin Hamama, Riri Satria, D. Kemalawati, Fikar W Eda, Ahmad Nurullah, Kurniawan Junaidi, Adri Darmaji Wojo, Jonminofri Nazir, Yon Bayu, Giyanto Subagyo.
Selain Sutardji, penyair yang memberi testimoni adalah Riri Satria, Fikar W. Eda, Fatin Hamama. “Isbedy adalah penyair yang bagus menulis puisi sekaligus pembaca puisi yang baik,” kata Fatin. Sementara Riri Satria melihat Isbedy adalah penyair senior yang tidak berjarak dengan penyair di bawahnya. “Bahkan Isbedy tidak pernah menunjukkan kesombongan sebagai penyair Isbedy,” tekan Riri dari Jagat Sastra Milenial itu.
Masih kata Riri Satria, julukan “Paus Sastra Lampung” yang lahir bukan semata-mata karena produktivitas berkaryanya, melainkan juga karena pengakuan dedikasinya yang panjang dalam membangun ekosistem sastra di Lampung,” nilai Riri yang juga dikenal penyair ini.
Kiprah Bang Is melalui Lamban Sastra di Lampung, lanjut Riri, merupakan contoh nyata bahwa seorang penyair tidak cukup hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ruang agar sastra terus bertumbuh. Isbedy sudah baik menulis puisi baik pula membaca puisi, dan ia juga berhasil memotivasi orang untuk menulis puisi melalui Lamban Sastra.
“Beliau terus mengabdikan diri sebagai pengayom bagi para penulis muda melalui berbagai komunitas literasi. Kehadiran beliau mengingatkan saya bahwa sastra tidak akan pernah hidup hanya melalui buku-buku, melainkan juga melalui orang-orang yang dengan sabar merawatnya dari hari ke hari,” katanya.
Peluncuran buku Puisi 68 dan Binvang Karya ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi, seperti Jose Rizal Manua, Helvy Tiana Rosa, Dzafira Adeliaputri Isbedy, Iin Zakaria, Erika Novolia Sani, Devi Matahari, Tri Lestari, Syaifuddin Gani, Novriaaan Ail, Nunung Noor El Niel, Nia Samsihono. Humam S. Chudori, Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar, Nurhayati. Acara ini dikemas apik oleh pewara Rissa Churia.(*)























