Mesuji : Pagi itu, di halaman SMP Negeri 4 Mesuji, tidak ada suara bising. Yang terdengar hanya langkah kaki kecil yang tergesa, lalu berhenti, lalu tangan-tangan mungil itu menyalami guru-gurunya dengan takzim.
Seorang siswi menunduk, mencium tangan gurunya. Yang lain tersenyum malu-malu, namun matanya berbinar. Pemandangan sederhana itu, yang mungkin setiap hari terlihat, justru menjadi pemandangan paling mengharukan di Hari Santri Nasional 2026.
Dalam poster ucapan yang dibagikan sekolah, tertulis tema besar tahun ini: _“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”_ Di bawahnya, ada dua sosok yang berdiri tegak dan tersenyum teduh.
Sosok pertama adalah *Bupati Mesuji, Ibu Hj. Elfianah, S.E.,M.IP.*, yang tampil anggun dengan hijab hijau dan kebaya biru tosca bermotif batik. Di sampingnya, berdiri *Karnain Efendi, S.Pd.,M.Pd., Kepala Sekolah SMPN 4 Mesuji*, dengan peci hitam, baju putih, dan sarung batik yang penuh wibawa. Mereka bukan sekadar berpose. Mereka adalah wajah dari keteladanan itu sendiri.
Bahagia dan bangga di Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 ini bisa memperingati dan upacara bersama di Lapangan Wira Praja Desa Buko Poso, bersama sosok yang kita hormati, kita banggakan dan kita teladani, yang selalu menjadi inspirasi kita, Bupati Mesuji, Ibu Hj. Elfianah, S.E., M.IP.
Di SMPN 4 Mesuji, Hari Santri tidak dimaknai dengan sekadar upacara dan poster. Hari Santri dimaknai dengan cara mendidik anak-anak agar menjadi santri dalam sikap, meski mereka bersekolah di sekolah umum.
Santri itu bukan hanya mereka yang tinggal di pondok. Santri adalah mereka yang menjaga adabnya. Yang tutur katanya lembut, yang menghormati guru, yang tidak meninggalkan sholat, dan yang tidak melupakan akhlak di tengah derasnya arus zaman.
Dan di sinilah hati pembaca akan terenyuh. Di saat banyak anak zaman sekarang lebih sibuk dengan gadgetnya, anak-anak SMPN 4 Mesuji masih diajarkan untuk bersalaman, untuk menundukkan kepala saat melewati guru, untuk mengucapkan salam dengan tulus. Hal kecil yang hari ini terasa langka, namun sesungguhnya adalah fondasi terbesar bagi Indonesia Emas.
“Santri itu bukan tentang di mana dia belajar, tapi tentang bagaimana dia menjaga dirinya,” begitu pesan yang terasa dari foto itu.
Foto latar yang menyertai poster itu pun bercerita banyak. Deretan siswa berseragam putih, dengan kerudung dan peci, berjalan beriringan menyambut pagi. Tidak ada yang berlari liar. Tidak ada yang berteriak. Yang ada hanya ketertiban yang lahir dari pembiasaan, dan keikhlasan yang lahir dari didikan.
Maka ketika SMPN 4 Mesuji mengucapkan _Selamat Hari Santri Nasional_, itu bukan sekadar ucapan seremonial. Itu adalah doa.
Doa agar anak-anak Mesuji tumbuh menjadi generasi yang kuat imannya, santun tutur katanya, dan tinggi adabnya. Doa agar dari ruang-ruang kelas sederhana di ujung Lampung ini, lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga bersih hatinya.
“Karena negeri ini tidak akan kuat hanya dengan gedung tinggi dan teknologi canggih. Negeri ini akan kuat jika anak-anaknya beradab. Dan adab itu dimulai dari salim pagi hari, dari senyum tulus seorang guru, dan dari teladan yang tidak pernah berhenti diberikan,” ujar Karnain Efendi, S.Pd.,M.Pd., Kepala SMPN 4 Mesuji.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Dari Mesuji, untuk Indonesia.
(Mihsan)























