Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Alarm Baru Ketahanan Ekonomi Nasional

Jakarta : Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali memuncak. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran baru terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah badai geopolitik global dan meningkatnya keraguan investor asing terhadap pasar domestik.

Pelemahan rupiah kali ini dinilai bukan sekadar gejolak biasa. Kombinasi konflik internasional, lonjakan harga minyak dunia, hingga memburuknya persepsi lembaga pemeringkat global terhadap Indonesia menjadi faktor yang mempercepat tekanan terhadap mata uang Garuda.

banner 728x90

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan menerima dampak gejolak global karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan derasnya arus modal asing di pasar keuangan domestik.

“Efeknya terhadap ekonomi kita relatif lebih besar dibanding negara lain, sehingga dampaknya juga lebih cepat terhadap rupiah,” ujar Josua dalam PIER Economic Review Kuartal I 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, memanasnya konflik di Asia Barat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran membuat dolar AS menguat tajam sebagai aset aman global. Di saat yang sama, harga minyak melonjak dan memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Situasi itu memunculkan ancaman berlapis. Kenaikan harga minyak memperbesar beban impor dan berpotensi menekan APBN, sementara penguatan dolar AS mendorong investor asing menarik dana dari aset-aset berdenominasi rupiah.

Tak hanya faktor global, sentimen domestik turut memperburuk tekanan pasar. Investor kini menanti hasil evaluasi indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang diumumkan Rabu (13/5/2026) waktu Indonesia.

Pasar mencemaskan aturan baru terkait High Shareholding Concentration (HSC) yang diterapkan MSCI. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi bobot sejumlah saham jumbo Indonesia yang memiliki free float terbatas, sehingga dikhawatirkan memicu keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.

Di tengah kondisi tersebut, peringatan dari lembaga pemeringkat internasional turut memperkuat sentimen negatif. Penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings sejak awal tahun membuat investor semakin berhati-hati menempatkan modal di Indonesia.

“Kita melihat rentetan risiko global ditambah penilaian lembaga internasional terhadap Indonesia memberikan dampak cukup masif terhadap risk appetite investor asing,” kata Josua.

Meski demikian, Josua menegaskan kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan krisis moneter 1998. Ia menilai fondasi ekonomi Indonesia masih jauh lebih kuat dibanding era krisis dua dekade lalu.
Cadangan devisa Indonesia dinilai masih cukup solid dan posisi utang luar negeri pemerintah relatif terkendali. Selain itu, secara fundamental rupiah disebut masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued, sehingga pelemahan saat ini lebih dipicu sentimen pasar jangka pendek.

Namun tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Ketidakpastian geopolitik global dan derasnya arus keluar modal asing membuat ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga semakin terbatas.

Di tengah ancaman tersebut, stabilitas rupiah kini menjadi ujian besar bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memastikan gejolak kurs tidak merambat menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas. (**)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *