LAMPUNG UTARA – Kematian seorang bocah berusia empat tahun di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Handayani, Kotabumi, Lampung Utara, Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, memicu sorotan tajam terhadap pelayanan rumah sakit.
Persoalan mencuat setelah video suasana UGD saat bocah yang diketahui bernama Ananda, warga Kecamatan Abung Pekurun, dinyatakan meninggal dunia, viral di media sosial.
Dalam video berdurasi sekitar 2 menit 18 detik itu, keluarga tampak terpukul dan histeris. Seorang pria bahkan mempertanyakan penanganan medis yang diterima korban sebelum meninggal.
“Kalau ini terjadi dengan anak kamu, bagaimana?” ujar pria tersebut dalam video sembari mempertanyakan keberadaan dokter dan tenaga kesehatan di ruang UGD.
Ia juga menuding penanganan terhadap korban tidak maksimal.
“Nggak mungkin mati anak itu kalau bukan kurang penanganan,” katanya dalam video tersebut.
Tudingan keluarga itu kini menjadi pertanyaan publik: apakah korban memang terlambat mendapatkan penanganan medis, atau ada kondisi medis lain yang menyebabkan nyawanya tidak tertolong?
Pertanyaan tersebut semestinya dijawab secara terbuka oleh pihak rumah sakit melalui penjelasan medis yang utuh, bukan sekadar pernyataan normatif.
Keluhan Lama Ikut Bermunculan
Kasus kematian Ananda juga memantik komentar warganet. Sejumlah akun media sosial mengaku pernah memiliki pengalaman kurang menyenangkan ketika mendapatkan pelayanan di RS Handayani.
Akun Dewi Aryani Saja mengaku mengalami pengalaman yang membuatnya trauma saat menjalani persalinan.
“Saya trauma dan ini untuk terakhir kalinya melahirkan di Rumah Sakit Handayani,” tulisnya.
Keluhan serupa disampaikan akun Azizah Iza. Ia mengaku pernah membawa pasien dari wilayah lain dan menyebut penanganan yang diterima berlangsung lama.
Sementara akun Yuli Az Zahra mengaku pernah mengantarkan seorang anak yang mengalami kejang ke UGD. Ia menyebut sempat diminta melengkapi berkas sebelum pasien mendapatkan penanganan.
“Waktu itu posisi subuh, sampai di UGD ketemu perawatnya malah suruh saya pulang untuk melengkapi berkas,” tulisnya.
Pengalaman lain disampaikan akun Malla Astutty. Ia mengaku pernah mengalami pendarahan dan harus memanggil perawat berkali-kali ketika tubuhnya menggigil saat transfusi darah.
Keluhan juga datang dari akun Uan Mawan yang secara khusus menyoroti pelayanan di UGD.
Ia mengaku kecewa dengan respons dokter saat menyampaikan keluhan dan menilai pemeriksaan berlangsung terlalu lama serta kurang maksimal.
Namun seluruh komentar tersebut merupakan pengalaman dan kesaksian pribadi para pemilik akun, bukan bukti yang dengan sendirinya membuktikan adanya kelalaian medis dalam kasus Ananda.
Di tengah derasnya sorotan publik, pihak RS Handayani belum memberikan penjelasan substantif mengenai kronologi kematian Ananda maupun dugaan keterlambatan penanganan sebagaimana dituding keluarga.
Sisi, customer service RS Handayani Kotabumi, ketika dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut mengatakan pihak manajemen belum berada di tempat.
“Untuk terkait dugaan lambat penanganan seorang pasien bocah meninggal dunia itu, ke sini hari Selasa. Karena Direktur atau Humas lagi tidak ada di tempat,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Direktur maupun Humas RS Handayani terkait kronologi pasien sejak tiba di UGD, tindakan medis yang diberikan, hingga waktu korban dinyatakan meninggal dunia.
(*)























