JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang disebut telah menyentuh angka Rp 18.000 per dollar AS mulai menimbulkan efek domino ke berbagai sektor. Tak hanya dunia usaha dan industri manufaktur, tekanan kurs juga dirasakan para pelaku industri musik yang selama ini bergantung pada peralatan impor.
Drummer sekaligus pendiri grup band Slank, Bimbim, mengungkapkan kenaikan dolar membuat biaya operasional bandnya ikut membengkak. Pasalnya, sebagian besar perlengkapan musik yang digunakan masih didatangkan dari luar negeri.
Menurut Bimbim, sejumlah kebutuhan utama musisi seperti stik drum, senar gitar, hingga berbagai perangkat pendukung pertunjukan mengalami kenaikan harga seiring menguatnya mata uang AS.
“Ya, stick, senar, dan perlengkapan lainnya. Dolar naik, kita kena semua. Impor semua itu,” kata Bimbim saat ditemui di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para musisi dan pelaku industri kreatif. Sebab, hampir seluruh instrumen musik berkualitas, suku cadang, hingga perlengkapan panggung masih bergantung pada pasar luar negeri.
Kenaikan biaya pengadaan alat musik berpotensi menekan anggaran produksi, baik untuk rekaman maupun pertunjukan langsung. Bagi musisi independen, situasi ini bahkan bisa berdampak pada kemampuan mereka dalam memperbarui atau merawat peralatan kerja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gejolak nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi makro, tetapi juga menyentuh industri hiburan yang selama ini menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif nasional.
Di tengah tekanan tersebut, para musisi berharap stabilitas nilai tukar dapat segera terjaga agar biaya produksi tidak terus meningkat dan aktivitas berkesenian tetap berjalan optimal. (**)























