Lampung Utara: Kabar duka menyelimuti keluarga Prajurit Satu Marinir (Pratu Mar) Zalendra Ferdika, prajurit asal Kabupaten Lampung Utara yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan pasukan elite Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) di kawasan Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan.
Keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan rinci mengenai penyebab kematian prajurit yang disebut telah memasuki tahap akhir pendidikan tersebut.
Pratu Mar Zalendra Ferdika diketahui berdinas di satuan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) 2 Marinir Surabaya sebelum mengikuti pendidikan Denjaka sejak Januari 2026. Selama hampir lima bulan menjalani latihan, almarhum disebut berada di fase akhir pendidikan menuju pembentukan salah satu pasukan khusus paling elit di lingkungan TNI Angkatan Laut.
Ayah almarhum, Perly Haryadi, mengatakan keluarga terakhir kali mengetahui rencana pendidikan itu saat anaknya berpamitan sebelum berangkat ke Jakarta.
“Dia sempat izin kepada keluarga untuk mengikuti pendidikan Denjaka, dan kami mendukung,” kata Perly kepada wartawan, Kamis, (21/5/2026).
Kabar meninggalnya Zalendra diterima keluarga sekitar pukul 12.00 WIB melalui sambungan telepon dari kerabat dekat. Informasi itu, menurut Perly, datang mendadak dan meninggalkan guncangan bagi keluarga.
“Kami dikabari melalui telepon bahwa anak kami sudah tidak ada,” ujarnya.
Meski telah menerima kabar duka, keluarga mengaku masih menunggu informasi resmi mengenai penyebab meninggalnya prajurit berusia muda tersebut.
Beberapa hari sebelum kabar itu datang, keluarga sempat menerima informasi bahwa kondisi fisik Zalendra menurun selama menjalani pendidikan.
“Sempat ada kabar kondisi kesehatannya menurun dan kurang fit, tetapi penyebab pastinya kami belum mengetahui,” kata Perly.
Menurut keluarga, jenazah dijadwalkan tiba di kampung halaman pada malam hari dan akan dimakamkan secara militer di Lampung Utara pada keesokan harinya (Kamis hari ini).
Pratu Mar Zalendra Ferdika merupakan putra daerah asal Kelurahan Cempedak, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan mudah bergaul.
“Anaknya baik, ramah dengan keluarga dan tetangga. Kami sangat kehilangan,” ujar Perly.
Namun duka keluarga Zalendra ternyata bukan satu-satunya. Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya empat siswa pendidikan Denjaka dilaporkan meninggal dunia dalam periode pendidikan tahun ini. Selain Zalendra, terdapat nama Praka Marinir Moh. Dani Fauzan dari Denipam 2 Marinir asal Situbondo, Jawa Timur; Kelasi Mes (KLS Mes) Markus Seprianus Sakan dari Den 4 Kopaska asal Kupang, Nusa Tenggara Timur; serta Praka Marinir Zaenal Arifin dari Dantimpur 2 Marinir asal Kediri, Jawa Timur.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI Angkatan Laut mengenai kronologi maupun penyebab meninggalnya.
Denjaka merupakan satuan elite TNI Angkatan Laut dengan kemampuan operasi khusus maritim, antiteror, dan pembebasan sandera berisiko tinggi.
Pasukan ini dibentuk dari unsur pasukan khusus Komando Pasukan Katak dan Yontaifib Marinir. Proses seleksi serta pendidikan Denjaka dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan standar fisik dan mental yang ketat.
Hingga kini, keluarga korban masih menunggu penjelasan resmi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik kabar duka tersebut.
(Ipul/Ayi)























