Tampil Memukau di Peluncuran ‘Puisi 68’, Dzafira Adelia Dinilai Sudah Menyentuh Inti Puisi

Lampung Utara: Peluncuran buku Puisi 68 karya Isbedy Stiawan ZS sekaligus milad ke 68 di PDS HB Jassin, tampil baca puisi siswi kelas 10 SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan (SMA MuAD) Metro, Dzafira Adeliaputri Isbedy.

Putri pasangan Isbedy dan Fitri Angraini ini membacakan puisi “Hanya”. Fira atau Adelia, sapaan akrabnya, meskipun termuda di antara penampil namun mampu mengantar magnet kepada penonton sekitar 70-an di Balai Sastra Hans Bague Jassin, Rabu 15 Jui 2026 petang.

banner 728x90

Ia tenang, mampu menjaga emosi. Struktur membacanya sangat jelas. Di usia yang baru 15 tahun, Adelia mampu menguasai menguasai panggung. Padahal yang hadir adalah seniman-seniman senior, seperti Jose Rizal Manua, Imam Ma’arif, Guntoro Sulung, Yon Bayu Wahyono, Irzi, Riri Satria, dan lain-lain.

Menurut Deknong Kemalawati, penyair asal Aceh, Dzafira membaca puisi setenang dan seterukur itu tidak mungkin dilakukan kecuali bagi seseorang yang sudah matang mengenal diksi.

“Salut, seusia Adel saya mungkin belum mampu menghayati puisi sedalam itu. Dari cara Adel membacanya, dia sudah sampai ke inti puisi,” nilai penyair yang telah banyak meluncurkan buku puisi, Jumat 17 Juli 2026.

Masih kata Kemalawati, dirinya
tetap merasa puisi yang dibaca Adel itu bukan puisi yang mudah dibaca di panggung. “Tapi Adel mampu membuat saya sebagai penonton menyimak itu tidak mudah,” ucap DK, kerap namanya disingkat.

Sementara Devie Matahari, penyair, pembaca puisi dan pegiat musikalisasi puisi mengaku suka dengan emosinya yang stabil dalam membaca.

Lanjut Devie, Adelia paham pada puisi yang dibacakannya sehingga bagi yang menyaksikan dan mendengar pembacaannya pun larut dan paham peristiwa puisinya.

Meski begitu, Devie berpesan agar Adel perlu rutin melatih vokal dan banyak membaca puisi.

“Pesan saya, Adelia hanya perlu rutin melatih vokal dasar, mencari dan membaca banyak puisi. Agar kelak dia akan punya warna dan intonasi yang beragam, serta tanpa disadari memiliki ‘gaya khas’ sendiri dalam membaca puisi,” lanjut Vie, panggilan akrabnya.

“Saya suka dengan pembacaan puisinya kemarin, seusia Adel kadang emosi masih sulit ditaklukkan. Keren mentalnya,” ujarnya.

Hal sama diakui Nanang R. Supriyatin, penyair asal Jakarta mengatakan setelah menyimak pembacaan puisi Adelia pada Milad ke-68 Isbedy Stiawan ZS, saya rasa penampilannya sudah sangat sepadan untuk anak seusianya.

Ia, ucap Nanang, mampu menjaga fokus sepenuhnya pada isi puisi. Di titik ini, penting untuk disadari bahwa ketika sebuah puisi dibacakan, yang hadir dan disuarakan seutuhnya adalah karya Isbedy, bukan lagi sekadar karya “Bapak” atau “Abi”.

“​Penampilan Adelia terbilang cukup meyakinkan. Ia memiliki talenta alami dalam membaca situasi panggung dan tampil tanpa rasa canggung atau grogi. Keberaniannya berdiri tegak dengan pembawaan seorang pembaca puisi yang percaya diri sudah menjadi modal awal yang sangat baik,” lanjut Nanang.

​Mengenai penjiwaan atau kedalaman, masih kata penyair yang berkiprah di komunitas Pojok TIM ini, dalam menghidupkan harapan dari teks puisi tersebut—yang memang masih agak lemah—itu adalah persoalan teknis yang lain.

“Namun, saya sangat yakin, dengan terus berlatih, ke depan Adelia akan tampil jauh lebih memukau dan mampu membuat penonton berdecak kagum.”

Terpisah, Iin Zakaria mengatakan, yang perlu diperhatikan Dzafira ke depan hanya dinamika vokal. “Ini bisa dicapai dari sering-sering membaca puisi dan banyak baca puisi. “Ia sesungguhnya sudah memiliki vokal yang khas,” kata Iin yang dijuluki Ratu Dongeng ini. Selama ini ia turut memerhatikan perkembangan Dzafira dalam membaca puisi.(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *