Sekolah Reyot Puluhan Tahun di Tanggamus: Siswa Belajar di Bawah Atap Bocor, Status Lahan Jadi Alasan Renovasi Tertunda

Tanggamus : Di tengah keterbatasan fasilitas, aktivitas belajar mengajar di sebuah sekolah dasar di Pedukuhan Batu Nyangka, Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, tetap berjalan seperti biasa. Setiap pagi, anak-anak datang ke ruang kelas sederhana yang kondisinya jauh dari standar kelayakan.

Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Satu Atap itu tampak rapuh. Dinding papan mulai lapuk, sementara atap seng yang berkarat dipenuhi lubang. Saat hujan turun, air kerap menetes ke dalam kelas dan membasahi lantai. Namun, situasi tersebut tidak menghentikan proses belajar.

banner 728x90

Kondisi ini bukan baru terjadi. Sekolah yang telah berdiri puluhan tahun itu belum pernah tersentuh pembangunan permanen, meski telah meluluskan banyak generasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Viktor Libradi, mengakui kondisi tersebut dan menyatakan akan melakukan evaluasi. Namun, ia menyebut kendala utama terletak pada status lahan sekolah yang belum dihibahkan.

“Ini akan kami jadikan evaluasi dan segera dikoordinasikan. Pemerintah belum bisa melakukan renovasi karena status tanah belum hibah,” ujarnya.

Alasan administratif tersebut memunculkan pertanyaan, mengingat kondisi bangunan yang dinilai sudah mendesak untuk diperbaiki. Di sisi lain, aktivitas belajar tetap berlangsung tanpa jaminan keamanan yang memadai bagi siswa maupun guru.

Apriana, salah satu guru di sekolah itu, telah mengabdi selama 18 tahun dalam kondisi serba terbatas. Ia mengaku belum pernah melihat bantuan pembangunan yang signifikan datang ke sekolah tersebut.

“Saya sudah 18 tahun mengajar di sini, belum ada bantuan pembangunan. Harapan kami sederhana, sekolah ini bisa dibangun permanen,” katanya.

Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para siswa. Mereka tetap datang setiap hari, belajar di ruang kelas yang jauh dari kata layak, dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Kondisi ini belakangan menarik perhatian sejumlah pihak. Tokoh masyarakat Lampung, Very Fardinalsyah, bersama sejumlah influencer lokal, meninjau langsung lokasi sekolah.

Selain memberikan bantuan berupa susu, buku tulis, dan makanan ringan, mereka juga berinisiatif menggalang dukungan untuk pembangunan sekolah.

Very menyatakan pihaknya akan berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk membangun gedung permanen, sebagai respons atas kendala administratif yang dihadapi pemerintah.

“Karena pemerintah terkendala status hibah tanah, kami bersama masyarakat dan rekan-rekan berinisiatif untuk membantu pembangunan sekolah ini,” ujarnya.

Langkah awal yang dilakukan adalah menginventarisasi kebutuhan material, sebelum bantuan disalurkan secara bertahap.

Meski demikian, kondisi ini kembali menyoroti persoalan klasik dalam tata kelola pendidikan di daerah, di mana aspek administratif kerap menjadi penghambat penanganan kebutuhan mendesak di lapangan.

Di Batu Nyangka, sekolah itu masih berdiri—bukan karena kekuatan bangunannya, melainkan karena keteguhan para guru dan semangat belajar anak-anak yang tetap terjaga di tengah keterbatasan.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *