Harga Kopi Lampung Utara Terjun Bebas, Petani Dibayangi Lonjakan Biaya Produksi

Lampung Utara : Tren pelemahan harga kopi mulai menekan ekonomi petani di Kabupaten Lampung Utara. Memasuki semester pertama 2026, harga kopi di tingkat petani turun drastis hingga menyentuh Rp46 ribu per kilogram, jauh dibandingkan masa keemasan pada 2025 yang sempat menembus Rp75 ribu per kilogram.

Anjloknya harga komoditas andalan tersebut memicu keresahan petani karena tidak lagi sebanding dengan tingginya biaya produksi dan perawatan kebun yang terus meningkat.

banner 728x90

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Utara, Hendri, mengatakan pelemahan harga kopi dipengaruhi kondisi pasar global serta meningkatnya pasokan saat musim panen mulai berlangsung di sejumlah daerah penghasil kopi.

“Pada Januari hingga April 2026 harga kopi masih berada di kisaran Rp51 ribu sampai Rp52 ribu per kilogram. Namun memasuki Mei terjadi penurunan cukup signifikan hingga berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram di tingkat petani,” ujar Hendri, Kamis (7/5/2026).

Penurunan harga paling dirasakan petani di sentra produksi kopi seperti Kecamatan Tanjung Raja dan sejumlah wilayah penghasil lainnya di Lampung Utara. Kondisi ini dinilai mengancam margin keuntungan petani menjelang puncak panen yang diperkirakan berlangsung Juli hingga Agustus mendatang.

Menurut Hendri, tekanan harga kopi domestik tidak lepas dari tren penurunan harga kopi dunia sejak pertengahan 2025. Dampaknya terasa hingga ke rantai perdagangan lokal melalui penurunan harga terminal ekspor.

“Pasar global sangat memengaruhi harga di tingkat petani. Ketika harga ekspor turun, pembelian di daerah juga ikut melemah,” katanya.

Ia mengaku memahami situasi yang dihadapi petani karena juga ikut berkecimpung sebagai petani kopi.
“Saya juga baru menjual hasil panen, jadi saya tahu kondisi yang dirasakan petani saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, petani kopi asal Desa Serumpun Jaya, Darwis, menilai kualitas hasil panen masih menjadi penentu utama daya saing kopi Lampung di tengah lesunya pasar.

“Kualitas biji kopi sangat menentukan harga jual. Selain itu, permintaan pasar dunia, produksi kopi global, dan nilai tukar rupiah juga sangat berpengaruh,” jelas Darwis.

Di tengah turunnya harga jual, para petani kini menghadapi tekanan ganda akibat naiknya harga pupuk, ongkos tenaga kerja, dan biaya perawatan kebun. Situasi tersebut membuat sebagian petani mulai mengurangi intensitas perawatan tanaman untuk menekan pengeluaran.

Musim panen kopi di Lampung Utara sendiri telah dimulai sejak Februari 2026 dan diperkirakan berlangsung hingga Oktober–November mendatang. Pemerintah daerah berharap harga kopi kembali stabil menjelang puncak panen agar roda ekonomi petani tetap bergerak.

“Harapannya harga bisa kembali membaik sehingga kesejahteraan petani tetap terjaga dan kualitas produksi kopi Lampung Utara tetap kompetitif,” pungkas Hendri.

(Ipul/Ayi)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *