BANDAR LAMPUNG : Kemah Sastra 2026 yang digelar sejak 6 April di Villa Kedaung, Kemiling, resmi ditutup, Kamis (9/4/2026).
Suasana haru mewarnai penutupan ketika para peserta—mayoritas perempuan—bergantian memeluk Fitri Angraini, penanggung jawab kegiatan sekaligus penerima dana Indonesiana-LPDP Kementerian Kebudayaan RI.
Air mata Fitri pecah saat menyampaikan sambutan penutup. Ia mengaku tak menyangka kegiatan yang semula diragukan mampu menjaring banyak peserta, justru mendapat respons besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
“Awalnya saya pesimistis bisa mendapatkan lebih dari 20 peserta. Ternyata ada sekitar 100 naskah yang masuk. Setelah divalidasi, 75 karya dikurasi dan disaring menjadi 20 peserta terbaik untuk mengikuti lomba cipta dan Kemah Sastra ini,” ujarnya dengan suara bergetar.
Fitri menegaskan, proses kurasi dilakukan secara serius dan profesional. Ia bahkan menyebut reputasi sastrawan Lampung menjadi pertaruhan dalam seleksi tersebut.
Nama Isbedy Stiawan ZS—yang dikenal dengan julukan “Paus Sastra Lampung”—menjadi salah satu alasan utama ketatnya proses penjaringan. Dewan juri yang terdiri dari Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iin Zakaria dinilai berhasil menghadirkan hasil seleksi yang kredibel.
“Hasilnya tidak meleset jauh. Para pemenang sesuai prediksi saya dan Isbedy,” kata Fitri.
Ruang Tumbuh Penulis Muda
Kemah Sastra bukan sekadar ajang lomba, tetapi ruang belajar dan bertumbuh bagi generasi muda. Sejumlah peserta menyampaikan kesan mendalam atas pengalaman yang mereka dapatkan.
Yuvanka Prasista (SMP Xaverius 2 Bandar Lampung), Cykal Qv Ichiya Putri (SMAN 7 Bandar Lampung), hingga Masyitha Alya Nurdiyono (Universitas Teknokrat Indonesia) menjadi bagian dari suara generasi muda yang menginginkan kegiatan ini terus berlanjut.
Mereka menilai, Kemah Sastra memberi ruang ekspresi, memperkaya wawasan, sekaligus membangun kepercayaan diri dalam berkarya.
Di balik kesuksesan acara, muncul dorongan kuat agar pemerintah daerah tidak abai terhadap pengembangan sastra. Fitri berharap keberlanjutan program ini bisa didukung oleh Pemerintah Provinsi Lampung.
“Kalau ini bisa difasilitasi Kementerian, kenapa tidak ke depan didanai pemerintah daerah?” ujarnya.
Senada, Isbedy Stiawan ZS menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam membangun ekosistem sastra yang sehat.
“Jangan prioritas pembangunan hanya fisik. Yang spiritual seakan diabaikan,” tegasnya.
Ia mengibaratkan pembangunan yang selama ini berfokus pada eksploitasi sumber daya alam—seperti emas, minyak, dan timah—tanpa diimbangi penggalian “kekayaan batin” generasi muda.
Menanam Benih, Menunggu Tumbuh
Kemah Sastra 2026 menutup rangkaian kegiatannya pada pukul 13.00 WIB. Namun lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini meninggalkan jejak penting: menanam benih literasi di tengah generasi muda Lampung.
Di tengah derasnya arus pembangunan fisik, Kemah Sastra hadir sebagai pengingat—bahwa masa depan daerah juga ditentukan oleh kekuatan imajinasi, kata-kata, dan keberanian berpikir generasi mudanya.
(*/Bdy)























