Lampung Selatan : Di tengah gencarnya slogan pembangunan dan pemerataan infrastruktur, ratusan warga di Katibung dan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, justru masih bergelut dengan jalan tanah rusak yang disebut belum pernah tersentuh aspal sejak tahun 1964.
Jalan poros penghubung Desa Tanjung Ratu dan Desa Sumber Agung itu kini berubah menjadi simbol panjangnya pembiaran pembangunan di wilayah pedesaan. Setiap musim hujan tiba, badan jalan berubah menjadi kubangan lumpur licin yang sulit dilalui kendaraan.
Tak ada alat berat. tak ada proyek perbaikan. warga akhirnya memilih bergerak sendiri.
Dengan alat seadanya, mereka bergotong royong menimbun lubang menggunakan batu, tanah dan rumput agar akses desa tidak lumpuh total. Aktivitas itu dilakukan hampir setiap kali hujan turun demi menjaga kendaraan tetap bisa melintas.
Kondisi jalan yang ekstrem membuat warga hidup dalam kecemasan. pengendara sepeda motor kerap terjatuh akibat jalan licin dan berlumpur. bahkan pelajar SMP dan SMA menjadi kelompok yang paling terdampak.
Setiap hari mereka harus mempertaruhkan keselamatan demi bisa berangkat sekolah. sebagian memilih memutar hingga 15 kilometer karena jalur utama dianggap terlalu berbahaya untuk dilewati.
“Sudah sering diusulkan, tapi sampai sekarang belum ada pembangunan. kalau hujan kami takut lewat karena licin dan banyak yang jatuh,” ujar Wahyuni.
Keluhan warga bukan tanpa alasan. jalan tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung antar kecamatan sekaligus jalur utama distribusi hasil pertanian masyarakat.
Pisang, jagung hingga sawit yang menjadi sumber penghidupan warga harus melewati jalan rusak itu setiap hari. akibatnya, biaya angkut hasil panen membengkak karena kendaraan sering rusak dan sulit masuk ke lokasi.
“Kami sudah terlalu lama hidup dengan kondisi jalan seperti ini. setiap hujan turun warga harus turun gotong royong menimbun jalan supaya masih bisa dilewati. Padahal ini akses utama masyarakat untuk sekolah, bekerja dan mengangkut hasil pertanian. Kami berharap pemerintah jangan hanya datang melihat atau memberi janji, tapi benar-benar segera membangun jalan ini agar masyarakat bisa merasakan akses yang layak seperti daerah lain,” ujar Kadus Gunung Mas Desa Tanjung Ratu, Edi Irawan.
Ironisnya, di saat berbagai wilayah lain menikmati pembangunan jalan hotmix dan proyek infrastruktur miliaran rupiah, warga di kawasan ini justru masih berjibaku dengan jalan tanah yang tak kunjung berubah selama lebih dari enam dekade.
warga mengaku kecewa karena janji pembangunan disebut berkali-kali datang dari pejabat, mulai dari aparat desa, anggota DPRD hingga dinas PUPR Lampung Selatan. namun setiap pergantian tahun, harapan itu kembali hilang tanpa kepastian.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar tentang arah pemerataan pembangunan di Lampung Selatan. sebab di tengah besarnya anggaran infrastruktur yang terus digaungkan pemerintah, masih ada wilayah yang harus memperbaiki jalan secara swadaya demi bertahan hidup.
Bagi warga, persoalan ini bukan lagi sekadar soal jalan rusak. kondisi tersebut telah berdampak langsung terhadap pendidikan, keselamatan hingga roda ekonomi masyarakat desa.
Meski kecewa, warga memilih tetap bertahan dan menjaga semangat gotong royong. mereka berharap suatu hari pemerintah benar-benar hadir, bukan sekadar datang membawa janji saat musim politik tiba.
(Eri)























