Abu Anak Krakatau Mulai Guyur Lampung Utara, Warga Kaget Teras dan Mobil Berlumur Debu

LAMPUNG UTARA : Warga Lampung Utara dikejutkan dengan munculnya lapisan debu halus di sejumlah permukiman pada Minggu (6/9/2026) pagi. Debu yang semula dikira kotoran biasa ternyata diduga merupakan abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Fenomena tersebut dirasakan warga di wilayah Tanjung Harapan, Kecamatan Kotabumi Selatan. Abu terlihat menempel di teras rumah hingga kendaraan yang terparkir di luar ruangan.

banner 728x90

Biksu (38), warga Tanjung Harapan, mengaku baru menyadari adanya abu vulkanik ketika keluar rumah pada pagi hari.

“Saya pagi keluar rumah kok banyak debu di teras. Ternyata ini abu vulkanik,” kata Biksu.

Kondisi itu membuat Biksu dan keluarganya memilih meningkatkan kewaspadaan. Masker yang tersedia di rumah langsung digunakan sebagai langkah antisipasi agar debu tidak terhirup.

“Kami ambil masker dan memakai masker. Takut juga, untuk antisipasi gangguan pernapasan,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terlihat pada kendaraan warga. Wiwik, warga setempat, mengaku kaget ketika melihat mobil yang diparkir di luar rumah tampak dipenuhi lapisan debu.

“Saya kaget, kok pagi-pagi mobil berembun tapi kotor bercampur debu. Ternyata abu vulkanik,” ungkapnya.

Abu yang menempel pada kendaraan dan permukaan rumah tersebut menjadi perhatian warga. Mereka mulai khawatir jika sebaran abu terus berlangsung dan semakin tebal, terutama karena dapat mengganggu aktivitas warga serta berpotensi mengganggu kesehatan apabila terhirup.

Warga pun memilih mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak hanya menjadi persoalan kawasan sekitar gunung. Jika terbawa angin, material abu vulkanik dapat menjangkau wilayah yang cukup jauh dan dirasakan masyarakat.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi kualitas udara, arah sebaran abu serta langkah yang harus dilakukan masyarakat.

Terlebih, masyarakat membutuhkan kepastian apakah debu yang ditemukan di permukiman tersebut benar merupakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau atau berasal dari sumber lain.

Munculnya abu di lingkungan permukiman juga menjadi perhatian karena partikel vulkanik berukuran halus dapat terhirup ketika berada di udara atau saat abu kembali beterbangan akibat aktivitas kendaraan maupun angin.

Warga diminta tidak panik, namun tetap waspada. Penggunaan masker saat berada di luar ruangan, menutup sumber air dan makanan, serta membersihkan abu dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan menjadi langkah kehati-hatian yang dapat dilakukan sembari menunggu informasi resmi.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *