Jakarta: Produsen kondom terbesar dunia, Karex, bersiap menaikkan harga produknya sebesar 20 hingga 30 persen. Kenaikan ini dipicu lonjakan biaya produksi dan distribusi yang terjadi di tengah terganggunya rantai pasok global, salah satunya akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Direktur Utama Karex, Goh Miah Kiat, menyatakan perusahaan tidak memiliki banyak pilihan selain membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.
“Biaya terus meningkat dan situasi tidak menguntungkan. Kami terpaksa meneruskan beban ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters, dilansir dari CNBCIndonesia.com, Kamis (23/4/2026).
Permintaan Naik, Pasokan Tersendat
Di saat yang sama, permintaan kondom global justru meningkat sekitar 30 persen. Lonjakan ini tidak diimbangi kelancaran distribusi. Keterlambatan pengiriman dan naiknya ongkos logistik membuat pasokan di berbagai pasar mulai menipis.
Karex, yang memproduksi lebih dari 5 miliar kondom setiap tahun dan menjadi pemasok bagi merek besar seperti Durex dan Trojan, kini menghadapi tekanan berlapis. Selain logistik, biaya bahan baku seperti karet sintetis dan nitril juga melonjak, termasuk bahan kemasan seperti aluminium foil dan pelumas berbasis silikon.
Laporan The Guardian menyebutkan, sejak konflik memanas pada akhir Februari, tekanan biaya terus meningkat di seluruh lini produksi.
Gangguan juga terjadi pada distribusi global. Waktu pengiriman ke pasar utama seperti Eropa dan Amerika Serikat kini mencapai hampir dua bulan, dua kali lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, banyak produk masih tertahan di jalur pengiriman saat permintaan di pasar justru meningkat.
“Banyak stok masih berada di kapal dan belum sampai ke konsumen yang membutuhkan,” kata Goh.
Meski Karex mengklaim memiliki stok untuk beberapa bulan ke depan dan tengah meningkatkan produksi, risiko kelangkaan tetap membayangi. Situasi ini diperparah oleh penurunan bantuan internasional untuk pengadaan kondom, termasuk dari lembaga seperti United States Agency for International Development.
Kenaikan harga kondom berpotensi berdampak pada akses masyarakat terhadap alat kontrasepsi, terutama di negara berkembang. Jika harga terus merangkak naik dan distribusi belum pulih, tekanan tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga program kesehatan publik yang bergantung pada ketersediaan produk ini.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan logistik global, industri alat kesehatan kini menghadapi tantangan baru, menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan aksesibilitas bagi masyarakat.
(**)























