Harkitnas 2026: ARMADA Soroti Krisis Fokus Generasi Muda, Dorong Ekosistem Socialpreneur

JAKARTA : Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 dinilai tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni mengenang sejarah. Di tengah derasnya arus digital dan tekanan sosial yang kian kompleks, tantangan generasi muda Indonesia disebut bergeser: bukan lagi soal keterbatasan akses informasi, melainkan krisis fokus, rapuhnya lingkungan pendukung, dan minimnya ruang pengembangan diri.

Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA), Aris Tama, menilai generasi muda saat ini menghadapi situasi paradoks. Di satu sisi, akses terhadap pendidikan, teknologi, dan jejaring semakin terbuka. Namun di sisi lain, banyak anak muda justru kehilangan arah akibat distraksi digital, budaya perbandingan di media sosial, hingga ketidakpastian masa depan.

banner 728x90

Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026, Aris memandang kebangkitan bangsa semestinya dimulai dari upaya membangun daya tahan mental dan sosial generasi muda. Menurut dia, keberhasilan anak muda tak cukup hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan bertahan menghadapi tekanan, keberanian mencoba, serta akses terhadap lingkungan yang mendukung.

“Anak muda tidak cukup hanya dikritik ketika gagal. Mereka membutuhkan support system yang sehat, ruang bertumbuh, dan dorongan untuk berani mencoba,” ujar Aris dalam keterangannya, Rabu, (20/5/ 2026).

Di tengah ancaman pengangguran dan perubahan lanskap ekonomi digital, ARMADA mendorong penguatan komunitas berbasis pemberdayaan, salah satunya melalui pengembangan socialpreneur club. Gagasan ini diarahkan untuk membentuk ruang kolaborasi bagi generasi muda agar tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta solusi sosial.

Aris menilai pendekatan socialpreneur semakin relevan karena mampu menjembatani kepentingan ekonomi dengan dampak sosial. Generasi muda, kata dia, perlu diarahkan untuk membangun inovasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga menjawab persoalan di lingkungan sekitar.

“Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum membangkitkan kesadaran generasi muda agar fokus pada masa depan, membangun jejaring positif, dan menghadirkan inovasi yang berdampak,” katanya.

Di balik seruan kemandirian generasi muda, Aris mengingatkan bahwa kebangkitan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada anak muda. Negara, keluarga, sekolah, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat dinilai harus hadir sebagai ekosistem pendukung agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat.

Bagi ARMADA, Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi refleksi bahwa kualitas masa depan bangsa akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ruang tumbuh, keberanian berinovasi, dan dukungan sosial diberikan kepada generasi mudanya hari ini.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *